info buddhis

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Tampilkan postingan dengan label Dhamma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dhamma. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Juli 2012

Kisah Hidup Atisha

Posted On 14.59 by Unknown 0 komentar

Genshe Ngawang Dhargyey
terjemahan lisan oleh Sharpa Tulku
dipersiapkan dan disunting oleh Alexander Berzin
diperbaiki sedikit oleh Alexander Berzin, November 2003
Versi asli dicukil dari
Anthology of Well-Spoken Advice, vol 1.
Dharamsala, India: Library of Tibetan Works & Archives 1982.
Pesan naskah aslinya langsung dari Snow Lion Publications.

 

Masa Kecil dan Penyerahan Hidup Kepangeranan

Di bagian timur India, di tanah Jahor, di kota Bangala, di Istana Panji Emas, hiduplah Raja Kalyana yang Baik Hati dan Ratu Prabhawati yang Berseri. Istana kerajaan itu dimahkotai dengan tiga belas atap emas yang memuncaki satu sama lain dan megah dihiasi dengan 25.000 panji-panji emas. Istana itu dikelilingi oleh taman, kolam, dan kebun indah yang tak terhitung jumlahnya. Kerajaan itu sendiri sama kaya-rayanya dengan kerajaan-kerajaan kuno Cina yang mewah.

Pasangan raja-ratu itu memiliki tiga putra, Padmagarbha, Chandragarbha, dan Shrigarbha. Pangeran kedua inilah yang tumbuh menjadi guru panutan kita, Atisha (982-1054 M).

Ketika Atisha berumur delapan belas bulan, orangtuanya mengadakan pertemuan umum pertamanya di puri setempat, Kamalapuri. Tanpa diperintah, Atisha melakukan sembah-sujud pada benda-benda mulia di dalam kuil dan dengan tanpa diminta ia berkata, “Karena welas asih dari orangtuaku, aku telah beroleh hidup yang berharga sebagai manusia yang kaya akan kesempatan untuk menyaksikan kalian semua, tokoh-tokoh luar biasa. Aku akan selalu mencari arahan (perlindungan) hidup dari kalian semua.” Saat diperkenalkan pada rakyatnya di luar, ia berdoa supaya dapat menyadari daya penuh yang ia miliki agar dapat memenuhi setiap kebutuhan mereka. Ia juga berdoa untuk mampu mengenakan jubah pencari rohani yang menyangkal hidup keluarga, tak pernah pongah, dan selalu memiliki perhatian welas asih dan kepedulian penuh kasih sayang bagi sesama. Hal ini sangat luar biasa untuk dilakukan seorang bocah yang masih begitu belia.

Saat Atisha tumbuh besar, keinginannya untuk menjadi biksu fakir membuncah lebih hebat daripada sebelumnya, tapi orangtuanya punya harapan yang berbeda. Dari ketiga putra mereka, Atisha adalah yang paling cemerlang, dan pertanda-pertanda baik yang hadir di saat kelahirannya membuat mereka percaya bahwa Atisha seharusnya menjadi pewaris tahta raja. Oleh karena itu, ketika bocah itu berumur sebelas tahun, usia lazim untuk menikah pada masa itu, kedua orangtuanya membuat persiapan-persiapan teliti bagi pernikahannya.

Menjelang hari pernikahan, sosok Buddha (yidam) Tara menampakkan diri dalam mimpi Atisha. Ia memberitahukan bahwa selama 500 kehidupan berturut-turut Atisha telah menjadi biksu fakir dan karenanya tak memiliki ketertarikan pada kenikmatan fana dunia ini. Ia menjelaskan bahwa seorang awam yang terperangkap dalam kenikmatan-kenikmatan itu akan mudah diselamatkan, seperti menarik seekor kambing yang terjebak dalam pasir isap. Tapi, sebagai pengeran, Atisha akal sulit untuk ditarik seperti halnya menarik gajah dari perangkap pasir. Atisha tidak memberitahukan mimpi ini pada siapa pun, tapi dengan lain alasan ia dengan cerdik berkelit dari pernikahannya.

Atisha merasa betul-betul yakin bahwa ia harus menemukan seorang guru rohani, tapi berkata pada orangtuanya bahwa ia hendak pergi berburu, ia pun meninggalkan istana dengan ditemani 130 prajurit berkuda. Pertama-tama, di hutan ia bertemu Jetari yang kudus, seorang lelaki berkasta brahmana yang hidup sebagai seorang petapa Buddha. Dari Jetari, Atisha secara resmi menerima sebuah arahan aman dalam kehidupan dan mengambil sumpah bodhisattwa. Lelaki kudus ini kemudian mengirim Atisha ke wihara perguruan tinggi Nalanda yang sunyi dan ke guru rohani Bodhibhadra.

Atisha segera berangkat bersama seluruh prajurit berkudanya dan di sana, dari Bodhibhadra, ia kembali menerima sumpah dan ajaran bodhisattwa. Ia kemudian diarahkan ke Vidyakokila yang agung untuk perintah lebih lanjut dan kemudian ke Avadhutipa yang ternama. Guru yang terakhir ini menasihati Atisha untuk pulang, berlaku hormat pada setiap orang, tapi juga untuk coba melihat semua kekecewaan dari hidup penuh kemewahan itu, kemudian kembali lagi untuk melapor.

Kedua orangtua Atisha bersuka melihatnya dan berpikir akhirnya ia akan menetap, mengambil seorang istri, dan mempersiapkan kepemimpinannya di masa mendatang. Akan tetapi, Atisha memberitahu mereka bahwa ia sebenarnya pergi mencari guru rohani untuk mendapatkan arahan. Ia mengakui bahwa yang ia inginkan adalah menjalani hidup perenungan yang tenang dan ia pulang untuk memohon izin supaya dapat meninggalkan tugas-tugas kepangeranannya.

Terhenyak oleh kata-kata Atisha, orangtuanya mencoba untuk menghalangi kepergiannya. Mereka berkata bahwa ia boleh memadukan dua kehidupan itu dan menawarkan padanya pembangunan biara-biara sunyi di dekat istana dan mengizinkannya belajar, memberi makan orang miskin, dan seterusnya. Mereka memohon agar ia tak kembali ke hutan. Tapi, Atisha memberitahu mereka bahwa ia tak punya sekelumit pun minat terhadap kehidupan istana. “Bagiku,” ia berkata, “istana emas ini tak ada bedanya dari penjara. Putri yang ayah dan ibu tawarkan tak ada bedanya dari putri roh jahat, makanan manis di sini tak ada bedanya dari daging anjing busuk, dan pakaian satin dan perhiasan ini tak ada bedanya dari kain rombeng di tumpukan sampah. Sejak hari ini, aku teguh untuk hidup di hutan dan belajar dari kaki guru Avadhutipa. Yang kuminta hanyalah sedikit susu, madu, dan gula aren dan aku akan beranjak pergi.”

Tak ada yang bisa diperbuat kedua orangtua Atisha selain menyetujui permintaannya. Demikianlah, Atisha kembali ke hutan dengan bekal-bekal yang dimintanya dan serombongan besar dayang kerajaan yang membuatnya malu. Orangtua Atisha rupanya bersikeras supaya rombongan ini ikut serta. Avadhutipa lalu mengirim pangeran muda ini ke guru Rahulagupta, di Gunung Hitam, untuk memasuki latihan tantra. Atisha tiba dengan seluruh prajurit berkudanya dan memberitahu guru vajra ini betapa ia telah belajar dari banyak guru, tapi masih belum mampu mengibaskan keterikatannya pada kehidupan istana. Rahulagupta menawarinya pemberdayaan yang pertama, yaitu latihan Hevajra, sosok Buddha yang akan menjadi tempatnya untuk mengikatkan pikiran. Rahulagupta kemudian mengirim Atisha kembali ke istana dengan delapan pengikutnya, empat laki-laki dan empat perempuan, berpakaian compang-camping dengan hiasan tulang khas mahasiddha, sosok-sosok luar biasa dengan pencapaian nyata.

Selama tiga bulan, Atisha tinggal di lingkungan istana dengan kawan-kawan barunya yang aneh ini, berperilaku dalam sikap yang sepenuhnya tak biasa dan kurang ajar. Pada akhirnya, orangtua Atisha terpaksa menghapus semua harapan atas putra berharga mereka. Mengira Atisha telah gila, mereka memberikan izin penuh baginya untuk pergi bersama kawan-kawannya yang berperawakan menjijikkan itu dan menghilang untuk selamanya.

Pelajaran-Pelajaran di India dan Pulau Emas


Atisha dengan segera kembali ke gurunya, Avadhutipa, dan kini, dari usia 21 sampai 25 tahun, ia mempelajari secara mendalam pandangan jalan tengah Madhayamaka terhadap kenyataan. Selama rentang waktu ini, ia juga belajar dengan banyak guru mahapandai lainnya dan menjadi sungguh berpengalaman dalam semua sistem latihan tantra. Malah, ia menjadi agak congkak dengan pengetahuan luasnya itu dan merasa dirinya pandai tentang aturan-aturan tersembunyi untuk melindungi cita ini dan bahwa ia telah menguasai seluruh naskahnya. Tapi kemudian, ia menerima penglihatan murni dari dakini, seorang perawan samawi yang gerakan-gerakannya tak dirintangi kebodohan, yang memegang banyak jilid aliran abadi dari sistem tantra seperti itu. Ia berkata pada Atisha, “Di tanahmu, hanya ada sedikit naskah semacam itu, tapi di tanah kami ada begitu banyak.” Setelah itu, kecongkakan Atisha mengempis.

Satu hari, ia memutuskan untuk pergi dan mengabdikan seluruh tenaganya pada latihan-latihan tantra untuk mewujudkan daya paling penuh dalam hidupnya. Guru vajranya, Rahulagupta, kemudian muncul dalam sebuah mimpi dan menasihatinya supaya tidak berbuat demikian dan meninggalkan semua orang, namun supaya menjadi seorang biksu fakir. Ia seharusnya lanjut dalam sikap ini dengan latihan yang ajeg dan mencapai pencerahan sempurna saat waktunya tiba. Karenanya, di usia 29 tahun, Atisha menerima dari tetua Shilarakshita jubah pencari rohani yang telah meninggalkan kehidupan keluarga dan diberi nama Dipamkara Jnana, “Ia yang Kesadaran Mendalamnya Bertindak sebagai Pelita.”

Selama 12 pertama setelah mengenakan jubah itu, Atisha belajar di wihara perguruan tinggi Odantapuri dengan Dharmarakshita yang agung, penulis naskah lojong (latihan cita) yang terkenal untuk pembersihan sikap-sikap kita, Cakra Senjata-Senjata Tajam. Mereka memusatkan perhatian pada semua aturan Hinayana atau cita-bersahaja untuk diambil sebagai wahana menuju pembebasan, tapi Atisha selalu tak merasa puas. Ia mendamba cara tercepat untuk mewujudkan daya terpenuhnya.

Guru vajranya, Rahulagupta, berkata pada Atisha, “Tak peduli seberapa banyak penglihatan murni yang kamu terima, kamu harus berlatih untuk menumbuhkan kasih peduli, nuraga welas asih, dan tujuan bodhicita yang dipersembahkan khusus untuk membawa manfaat bagi sesama dan untuk mencapai pencerahan.” Rahulagupta menasihati Atisha untuk berjanji sepenuh hati dalam dirinya pada sosok Buddha Avalokiteshvara, untuk mengikat erat citanya dengan dirinya dan bergiat untuk jadi tercerahkan supaya ia bisa melakukan yang terbaik untuk membebaskan setiap orang dari samsara, keadaan yang terus terjadi tanpa terkendali. Hanya dengan pencapaian ini Atisha mampu mewujudkan daya terpenuh yang dimilikinya.

Di Vajrasana, Tempat Duduk Vajra, di Bodh Gaya sekarang, ketika sedang mengelilingi tugu peninggalan stupa besar untuk menghormati Buddha, Atisha mendengar dua patung saling berbisik di sudut di balik stupa itu. Yang satu bertanya pada yang lain, “Jika kamu ingin meraih pencerahan secepat mungkin, dalam apa seharusnya kamu berlatih?” “Hati bodhicita yang penuh mengabdi” adalah balasannya. Dan sembari mengelilingi pucuk tugu tersebut, sebuah patung Buddha, Guru Agung Pelampau Segala, berbicara padanya, “O biksu fakir, jika kamu ingin mewujudkan daya terpenuhmu dengan cepat, berlatihlah dalam cinta, welas asih, dan bodhicita.”

Kala itu, guru paling tenar yang mengampu ajaran lengkap tentang cara menumbuhkan bodhicita adalah Dharmakirti (Dharmapala) Guru Mahamulia dari Suwarnadwipa, Pulau Emas. Oleh karenanya, dengan sekelompok 125 biksu terdidik, Atisha berangkat dengan kapal dagang ke Pulau Emas, Sumatera sekarang. Di masa itu, perjalanan laut yang panjang bukanlah sebuah urusan gampang dan mereka dengan susah-payah melewati badai, serangan paus, dan hilang arah. Butuh tiga belas bulan yang berat untuk menyelesaikan perjalanan, tapi Atisha tak sedikit pun gentar melewatinya.

Saat mereka akhirnya berlabuh, Atisha tidak serta-merta pergi menemui guru ternama itu; alih-alih, ia tinggal selama dua minggu penuh bersama sekelompok pengikut Dharmakirti. Ia terus mengorek pengetahuan dari mereka tentang guru mereka itu dan bersikeras mengetahui kisah hidup lengkapnya. Hal ini menunjukkan pada kita pentingnya untuk mempelajari secara menyeluruh seorang guru rohani dan memeriksa kemampuannya sebelum belajar darinya.

Sementara itu, Guru Mahamulia dari Pulau Emas ini telah mendengar kedatangan sarjana terdidik dari India dan rekan-rekan fakirnya dalam perjalanan rohani mereka. Ia mengumpulkan masyarakat biksunya sendiri untuk mempersiapkan sambutan dan ketika Atisha tiba, mereka bersama-sama menyelenggarakan banyak upacara yang berguna untuk masa depan. Ia juga menghadiahi Atisha sebuah patung Buddha dan meramalkan bahwa suatu hari Atisha akan menjinakkan cita orang-orang di Tanah Salju sebelah utara.

Atisha menetap di Pulau Emas selama dua belas tahun, penuh gelora berlatih dengan gurunya ini. Pertama-tama, ia mempelajari Kerawang Perwujudan (Skt. Abhisamaya-alamkara) perintah-perintah panduan dari Maitreya yang Jaya untuk memahami makna Sutra Kesadaran yang Jauh Menjangkau dan Membedakan dari Yang Mahatahu (Skt. Prajnaparamita Sutra). Lambat laun ia lalu menerima ajaran penuh tentang perilaku luas dari silsilah Maitreya dan Asanga, juga ajaran-ajaran dari silsilah khusus tentang menukar sikap mementingkan diri sendiri dengan sikap peduli terhadap sesama, yang bodhisattwa Shantidewa, seorang putra rohani dari Yang Jaya, terima dari yang dimuliakan dan tiada bercela Manjushri sendiri. Setelah Atisha memperoleh perwujudan penuh dari tujuan bodhicita lewat cara-cara ini, ia kembali ke India di usianya yang ke-45 tahun dan berdiam di sana, menghabiskan sebagian besar waktunya di wihara perguruan tinggi Vikramashila yang sunyi.

Secara keseluruhan, Atisha telah belajar dari 157 guru agung, tapi ia memiliki rasa hormat yang istimewa terhadap guru luar biasanya dari Pulau Emas dan aturan-aturan yang ia berikan; sampai-sampai air mata menggenangi pelupuk matanya manakala ia menyebut atau mendengar nama gurunya itu. Ketika kemudian ditanya oleh para pengikutnya di Tibet tentang apakah penampakan rasa ini berarti ia lebih menyukai salah satu guru di antara guru yang lain, Atisha membalas, “Aku tidak membeda-bedakan guru rohaniku. Tapi oleh karena kebaikan guruku yang mahamulia dari Pulau Emas ini, aku telah beroleh kedamaian cita dan hati penuh pengabdian pada tujuan bodhicita.”

Mengundang Atisha ke Tibet


Setelah Atisha kembali ke India, ia melindungi dan menjunjung Dharma Suci yang Jaya dengan tiga kali mengalahkan orang-orang picik non-Buddha dalam perdebatan resmi. Di dalam ajaran Buddha, ia membangun banyak lembaga pembelajaran ke mana pun ia berpergian, dan kapan saja ia melihat tanda praktik-praktik yang merosot atau keliru, ia akan segera memperbaikinya. Ketenarannya menyebar ke seluruh India. Karena welas asih dan wawasannya, ia dipuja sebagai permata mahkota guru-guru terpelajar. Akan tetapi, anugerah paling luar biasa darinya ia berikan pada masyarakat di Tibet, Tanah Salju.

Walau Buddha Dharma pernah dibawa ke Tibet beberapa abad sebelumnya, utamanya lewat usaha Guru Rinpoche Padmasambhava dan beberapa lainnya, kemekaran awal ini menderita kelayuan yang hebat karena tekanan Raja Langdarma (863-906 M). Tinggal sedikit saja pelaku ajaran yang tersisa dan setelahnya banyak pokok yang tidak lagi dipahami dengan tepat. Banyak orang merasa bahwa praktik-praktik disiplin-diri etis dan tantra itu saling terpisah dan bahwa pencerahan dapat dicapai lewat kemabukan dan beragam pelecehan seksual. Yang lain percaya bahwa, begitu juga, ajaran Hinayana dan Mahayana pun saling bertolak-belakang, yang satu berujung pada pembebasan dan yang lain bermuara pada pencerahan.

Sedih karena keadaan yang merosot ini, Raja Tibet Yeshey-wo berkeinginan besar mengundang guru terpelajar dari salah satu pusat wihara agung di India untuk datang ke Tibet dan menjernihkan kekeruhan ini. Karena tidak mengenal Atisha secara khusus, ia mengirim 21 pemuda untuk mempelajari bahasa Sanskerta dan mencari guru yang cocok. Semua kecuali dua mati karena suhu panas. Tak mampu mengundang siapa pun, tapi telah belajar bahasa Sanskerta, para penerjemah baru Rinchen-zangpo (958 – 1050 M) dan Legshay kembali kepada raja dan mewartakan padanya tentang Atisha.

Segera setelah mendengar nama Atisha, raja memutuskan bahwa Atisha inilah orang yang dibutuhkan. Tanpa membuang waktu, ia mengirim rombongan kedua yang berjumlah sembilan orang, dikepalai oleh Gyatsonseng, dengan banyak emas untuk mengundang guru ini. Tapi delapan dari mereka juga mati dan, karena tak mampu membawa Atisha, Gyatsonseng tinggal di India. Saat kabar tentang kegagalan kedua ini sampai ke telinga Yeshey-wo, ia memutuskan untuk memimpin sendiri perjalanan untuk mengumpulkan emas untuk rombongan yang lain. Namun dalam tugas kali ini, ia ditangkap di perbatasan Nepal oleh Raja Garlog (Qarluq) saingannya, yang berusaha mencegah penyebaran ajaran Buddha lebih jauh lagi di Tibet.

Keponakan Raja Yeshey-wo, Jangchub-wo, diberitahu untuk membatalkan perjalanan ke India atau menggalang sejumlah emas yang setara dengan ukuran pamannya untuk menjamin pembebasan sandera. Keponakan raja itu berkeliling kerajaan, tapi hanya mampu mengumpulkan emas yang setara dengan badan, kaki, dan tangan Raja. Ia tidak mampu menggalang emas tambahan untuk menebus kepala pamannya itu. Saat Garlog si penguasa menginginkan tebusan penuh, keponakan itu memohon izin untuk bertemu dengan pamannya.

Ia dibawa ke ruang penjara yang gelap, yang direbat dengan terali besi. Di sana ia menjelaskan keadaannya pada pamannya, yang dibelenggu dan amat rapuh, dan berkata bahwa ia akan terus mencari emas yang tersisa. “Jangan berhenti berharap,” ujarnya pada pamannya, “karena aku akan memenuhi tebusannya. Aku bisa saja menyatakan perang dengan raja Garlog, tapi akan banyak orang yang terbunuh. Membeli kebebasanmu tampaknya jalan terbaik.”

“Keponakanku tersayang,” Raja yang renta itu membalas, “aku tak pernah menyangka kau begitu penuh dengan welas asih dan kebijaksanaan. Aku senang bahwa kau memahami betapa jahatnya kekerasan, tapi sekarang kau harus melupakanku. Alih-alih, gunakan semua emas yang telah kau kumpulkan untuk mengundang guru agung Atisha ke Tibet. Tak terhitung jumlah kematianku di kehidupan sebelumnya, tapi aku yakin aku belum pernah mengorbankan diriku untuk Dharma dari Yang Jaya. Kini aku dengan senang hati melakukannya. Siapa pun yang kau kirim ke India, tolong minta dia untuk mengatakan pada Atisha bahwa aku telah memberikan nyawaku untuk kesejahteraan rakyatku dan Dharma supaya ia bisa dibawa ke Tibet. Walau aku belum punya keberuntungan untuk bertemu dengannya di kehidupan ini, aku sungguh-sungguh berharap bahwa aku bisa di masa depan.” Keponakan raja itu patuh pada perintah pamannya dan kemudian beranjak pergi, hampir-hampir tak kuasa dirudung oleh dukacita.

Jangchub-wo lalu menjadi Raja Tibet. Ia memutuskan bahwa orang terbaik yang bisa ia kirim pada perjalanan ketiga ini adalah Nagtso si penerjemah, yang pernah ke India beberapa kali. Raja baru itu mengundangnya ke istana dan, setelah bersikeras meminta penerjemah itu duduk di tahta kerajaan, memohon padanya. “Pamanku menyerahkan nyawanya supaya Atisha dapat diundang ke Tibet. Jika keinginan ini tidak terpenuhi, orang-orang kacau di tanah ini pasti akan jatuh ke dalam kelahiran kembali yang mengerikan. Aku memohon padamu untuk menyelamatkan manusia-manusia yang malang ini.” Raja muda itu kemudian terjatuh dan tersedu. Nagtso tak punya pilihan lain kecuali menerima dan memberanikan diri menentang kesukaran-kesukaran perjalanan ke India lagi ini.

Penerjemah itu berangkat dengan 700 keping emas dan enam rekan. Raja mengantar mereka selama beberapa hari dan, sebelum beranjak pergi, ia mengingatkan Nagtso untuk memberitahu Atisha, “Ini adalah emas terakhir di Tibet dan pamanku adalah laki-laki hebat Tibet yang terakhir. Jika ia punya rasa welas asih bagi sesama, ia pasti datang. Jika orang-orang Tibet yang biadab ini saja menaruh perhatian pada Dharma dan ia tidak, ajaran Buddha memanglah telah melemah dan tak ada lagi harapan!” Raja kemudian kembali ke istananya.

Dalam perjalanan ke India, rombongan utusan itu bertemu dengan seorang bocah laki-laki yang menanyakan tujuan perjalanan mereka. Saat diberitahu, bocah itu merasa sangat senang dan berkata, “Kalian akan berhasil dalam perjalanan ini jika kalian selalu melafalkan doa ini, ‘Kepada Avalokiteshvara aku bersujud, dari Avalokiteshvara pula kuambil arah yang aman. Aku mohon Dharma yang Jaya tumbuh mekar di Tibet.” Saat ditanya tentang siapa dirinya, bocah itu berkata bahwa mereka akan mengetahuinya ketika saatnya tiba.

Akhirnya, rombongan itu sampai di wihara perguruan tinggi Vikramashila yang sunyi di satu malam yang sudah larut dan mereka berkemah di pintu gerbangnya. Di ruangan di atas, tinggallah Gyatsonseng, orang Tibet yang telah memimpin perjalanan kedua dari Raja Yeshey-wo. Saat ia mendengar suara-suara yang berbicara dalam bahasa pribuminya, ia melihat ke bawah dengan rasa terkejut luar wihara dan, melihat bahwa rombongan itu berkemah di bawah, ia bertanya mengapa mereka datang. Orang-orang Tibet itu dengan girang melontarkan cerita mereka, dan bahkan terang-terangan membuka bahwa tujuan dari perjalanan mereka sebenarnya untuk membawa Atisha ke Tibet. Gyatsonseng memperingatkan mereka untuk tidak mengungkap tujuan-tujuan mereka segamblang itu. Ia menasihati mereka untuk meninggalkan emas mereka pada bocah laki-laki yang berjaga di gerbang dan untuk datang menemuinya di pagi hari. Para utusan lalu melakukannya dan bocah laki-laki itu meminta mereka untuk beristirahat dan untuk menaruh percaya padanya.

Pagi buta di hari berikutnya, bocah itu membangunkan mereka dan bertanya tentang alasan mereka datang. Saat mereka memberitahu semuanya, bocah laki-laki itu membentak, “Kalian orang Tibet terlalu banyak cakap! Kalian harus menyimpan hal ini diam-diam. Kalau tidak, akan ada banyak gangguan. Hal penting tak boleh dilakukan tergesa-gesa, tapi selalu dengan perlahan, teliti, dan diam-diam.” Bocah itu lalu mengembalikan keping emas mereka dan membimbing mereka masuk ke lahan wihara yang luar biasa besar itu.

Rombongan itu bertemu dengan seorang lelaki tua yang menyapa mereka dan bertanya dari mana asal mereka dan mengapa mereka datang ke tempat itu. Lagi-lagi, mereka tak berusaha menyembunyikan apa pun dan pria tua itu memarahi mereka, “Jika kalian terus ceroboh seperti ini, kalian tidak akan pernah meraih tujuan kalian. Beritahukan tugas kalian hanya pada Atisha.” Ia kemudian menawarkan diri untuk mengantar mereka ke ruangan Gyatsonseng. Walaupun ia berjalan perlahan dengan bantuan tongkat rotan, tak seorang pun yang bisa mengimbangi jalannya, karena ia juga, seperti dua bocah laki-laki sebelumnya, merupakan perwujudan dari Avalokiteshvara, yang sedang mengawasi perjalanan mereka.

Kini, para utusan dari Tibet itu memutuskan sebuah rencana tindakan. Gyatsonseng meminta mereka untuk berkata bahwa mereka datang untuk belajar bahasa Sanskerta. “Kepala Wihara utama kami, tetua Ratnakara, adalah atasan Atisha dan begitu menghormatinya. Jika ia mendengar tujuan kalian yang sebenarnya, ia akan pastikan kalian tak bakal pernah bertemu Atisha.”

Pagi berikutnya, mereka melapor pada Kepala Wihara dan mempersembahkan separuh dari keping emas mereka. Mereka berkata bahwa di masa lalu banyak dari rakyat mereka yang datang ke India untuk mengundang datang ke Tibet guru-guru terpelajar seperti Atisha. Akan tetapi, mereka sendiri datang untuk belajar dan menjadi terpelajar. Tetua yang dihormati itu sungguh merasa lega dan berkata, “Silahkan kalian lakukan. Jangan salah paham. Bukan karena aku tidak berwelas asih terhadap Tibet, tapi Atisha adalah salah satu guru kami yang mahapandai, khususnya dalam hal bodhicita. Jika ia tidak tinggal di India, tak ada harapan bagi ajaran-ajaran Buddha untuk lestari di tanah kelahirannya sendiri.” Kepala Wihara itu, akan tetapi, masih menaruh curiga pada orang-orang asing ini dan mencegah mereka bertemu Atisha.

Orang-orang Tibet itu, yang merasa yakin siasat mereka berhasil, mulai menghadiri pelajaran sambil menanti kesempatan mereka. Setelah beberapa bulan, sebuah upacara kewiharaan penting digelar. Karena setiap orang diminta untuk datang, para utusan Tibet itu berharap bahwa mereka pada akhirnya dapat sepintas melihat Atisha. Selagi mereka menonton dan menunggu, banyak guru agung masuk ke dalam tempat upacara. Beberapa orang, seperti Naropa yang ternama, datang dengan dikelilingi rombongan pendamping yang ramai. Yang lain diiringi oleh para pembantu yang membawa bunga dan dupa. Akhirnya, Atisha tiba. Ia mengenakan jubah tua yang compang-camping, dengan kunci-kunci ruang doa dan gudang terselip di pinggangnya. Para utusan Tibet itu kecewa berat dengan penampilan Atisha yang tak mengesankan dan bertanya pada Gyatsonseng apa mereka bisa mengundang salah satu dari guru yang lebih menawan saja sebagai gantinya. Gyatsonseng berkata pada mereka, “Tidak, Atisha punya ikatan erat yang sangat khusus dengan Tibet dan, meski berpenampilan begitu, merupakan orang yang harus kalian bawa pulang.”

Akhirnya, sebuah pertemua rahasia diatur. Nagtso mempersembahkan keping-keping emas yang ditumpuk tinggi di atas piring sesaji mandala bundar dan memberitahu Atisha sejarah tentang bagaimana Dharma suci telah merosot di Tibet. Setelah menautkan cerita itu dengan kisah pengorbanan Raja Yeshey-wo dan mengulangi kata-kata raja dan keponakannya itu, Nagtso memohon supaya Atisha datang.

Atisha berkata bahwa mereka sangat baik hati dan bahwa ia tak ragu sama sekali bahwa kedua raja Tibet tersebut sesungguhnya adalah bodhisattwa. Ia sadar betul dengan masalah-masalah yang terjadi dan dengan tulus menghormati Raja untuk pengorbanannya, tapi mereka juga harus mencoba memahami bahwa ia semakin renta dan bahwa ia punya banyak tanggung jawab sebagai penjaga gudang wihara. Ia berharap bisa datang. Lalu, ia mengembalikan emas mereka untuk keperluan perjalanan pulang. “Sementara itu,” katanya pada mereka, “aku harus meminta saran dari yidam pribadiku.”

Malam itu, Tara menampakkan diri pada Atisha dalam sebuah penglihatan murni dan berkata padanya bahwa perjalanannya akan menjadi sebuah keberhasilan yang lengkap. Ia akan membawa limpahan manfaat bagi orang-orang Tibet dan menemukan di antara mereka satu pengikut yang secara khusus punya ikatan erat dengannya. Ini akan menjadi upasaka, seorang laki-laki dengan sumpah-sumpah awam, dan ia akan menyebarkan Dharma bahkan lebih luas lagi. “Tapi,” kata Tara padanya, “jika kamu tinggal di India, kamu akan hidup sampai umur 92, sementara jika kamu pergi ke Tibet, rentang hidupmu hanya sampai 72 tahun.” Atisha kini merasa yakin untuk pergi bersama para utusan dari Tibet itu dan bahwa kehilangan dua puluh tahun usianya adalah sebuah pengorbanan yang pantas jikalau ia sungguh mampu membawa manfaat bagi orang lain. Ia tinggal mencari cara cerdik agar bisa mendapat izin pergi dari kepala wiharanya yang cerdas.

Pertama-tama, ia meminta izin untuk berziarah ke timur, selatan, dan barat Vikramashila. Ini diizinkan dan Atisha mengunjungi sejumlah tempat suci. Lalu, ia meminta izin untuk melakukan perjalanan serupa ke utara, tapi Tetua itu, mengendus niat tersembunyi Atisha, menolaknya.

Para utusan dari Tibet itu betul-betul putus-asa dan memutuskan bahwa memberitahu Kepala Biara tentang hal yang sebenarnya adalah satu-satunya harapan yang tersisa. Tetua wihara itu berpura-pura marah, dan para utusan dari Tibet itu jatuh berlutut dan memohon ampunan. “Alasanku menolak memberi Atisha pada kalian masih sama dengan yang dulu,” Kepala Wihara membuka suara, “tapi karena Tibet membutuhkannya begitu hebatnya, aku bersedia membiarkannya untuk menetap di tanah kalian selama tiga tahun. Akan tetapi, kalian harus berjanji untuk mengembalikannya ke India setelah itu.” Diliputi sukacita, para utusan dari Tibet itu pun mengucapkan janji mereka.

Membentuk Ulang dan Menghidupkan Kembali Dharma di Tibet

Demikian, di usianya ke-53 tahun, Atisha melakukan perjalanan panjang ke Tanah Salju. Di jalan, penerjemah Gyatsonseng jatuh sakit dan meninggal. Dalam duka, Atisha menyatakan, “Kini lidahku telah tercabut!” Kemudian Nagtso dengan rendah hati membungkuk di hadapannya dan berkata, “Janganlah khawatir. Walau sekarang tidak sempurna, bahasa Sanskerta saya pasti akan berkembang. Juga masih ada orang lain yang mungkin dapat melayani Anda.”

Di Nepal, mereka bertemu penerjemah hebat yang mencelikkan-mata, Marpa (1012-1099 M), yang sedang dalam perjalanannya ke India untuk yang ketiga kalinya. Atisha mengundangnya untuk menjadi penerjemahnya, tapi Marpa menolak dengan berkata, “Guruku ingin aku mengunjungi India tiga kali. Kini, aku harus melakukan perjalanan terakhir ini.” Mereka juga bertemu Rinchen-zangpo, penerjemah yang sudah lanjut usia, tapi ia juga tidak mampu menolong, “Seperti yang bisa Anda lihat dari uban di kepala saya,” katanya, “saya ini sudah sangat tua. Saya telah bekerja sepanjang hidup saya tanpa pernah punya kesempatan untuk melakukan latihan batin secara mendalam.” Karena itu, Atisha terus beranjak, terpaksa mengandalkan keterampilan Nagtso yang terbatas.

Setelah dua tahun perjalanan, rombongan itu akhirnya tiba di Tibet Atas (Tibet bagian barat) di kota Ngari, ibukota kerajaan Yeshey-wo. Tuan rumah dan para biksu menggelar arak-arakan besar dan mengundang Atisha untuk tinggal di biara sunyi terdekat. Guru dari India ini bersukacita melihat kegairahan terhadap ajaran-ajaran Yang Jaya ini dan sungguh terkejut mengetahui jumlah orang yang telah mengenakan jubah pencari rohani. Banyak orang terpelajar datang dari seluruh wilayah Tibet. Ia sungguh terkesan dengan kedalaman pertanyaan-pertanyaan mereka mengenai sutra dan tantra Buddha yang Suci sampai-sampai ia berpikir mengapa mereka harus bersusah-payah mengundangnya ketika sudah ada begitu banyak guru di situ. Akan tetapi, saat ia bertanya balik tentang bagaimana dua perangkat aturan-aturan pencegahan itu membentuk satu kesatuan utuh, mereka tidak mampu menjawab. Atisha kini tahu tujuan dari tugasnya.

Suatu hari, Raja Jangchub-wo meminta sebuah pengajaran bagi masyarakat Tibet. “Kami tidak menginginkan pengajaran tentang aturan-aturan yang begitu luas dan mendalam sehingga kami takkan mampu menganutnya,” katanya. “Yang kami butuhkan adalah sesuatu yang akan menjinakkan cita kami dan memampukan kami menghadapi perilaku harian kami yang selalu menuruti dorongan hati (karma) dan akibat-akibatnya. Tolong ajarkan kami aturan-aturan yang Anda sendiri ambil.”

Atisha begitu terpikat oleh kesederhanaan dan ketulusan permintaan Raja, sehingga di tahun-tahun berikutnya ia menyebutnya sebagai “pengikutku yang sempurna”. Kalau saja ia diminta untuk mengajar tentang pemberdayaan lebih maju menuju sistem-sistem kedewaan tantra atau untuk latihan-latihan yang dapat mendatangkan kekuatan khusus, ia akan jauh lebih kecewa. Karena itu, Atisha menghabiskan tiga tahun di Ngari, memberikan wacana-wacana yang kemudian dikumpulkan ke dalam Pelita bagi Jalan menuju Pencerahan (Skt. Bodhipathapradipa), sebuah purwarupa bagi seluruh naskah selanjutnya mengenai pokok ajaran ini.

Pokok-pokok yang selalu ia tekankan dalam percakapannya dengan orang-orang menghasilkan nama panggilan baginya, “Guru Mahamulia Arah yang Aman (Lama Perlindungan) dan “Guru Mahamulia Perilaku Menurut Dorongan Hati dan Akibat-Akibatnya (Lama Sebab dan Akibat)”. Ia sangat bahagia dengan hal ini dan berkata, “Bahkan mendengar nama-nama itu saja mungkin sudah membuktikan manfaatnya.”

Selama masa ini, Atisha tetap menanti ketua pengikutnya di masa depan, orang awam Tibet yang dinubuatkan oleh Tara yang dimuliakan dan tiada bercela, tapi orang ini belum muncul juga. Suatu hari, Atisha diundang ke rumah seorang teman untuk makan siang dan, sebab ia adalah seorang vegetarian yang ketat, ia diberi sajian kue jelai panggang khas daerah itu (tsampa). Ketika ia beranjak pergi, ia meminta beberapa potong tambahan dan mentega. Di saat itu juga, Dromtonpa yang dihormati (1004-1064 M), orang awam upasaka yang ditunggu-tunggu, tiba di rumah Atisha. Ia bertanya pada para pembantu, “Di mana guru Mahayanaku yang mahamulia itu?” Mereka membalas, “Atisha sedang bersantap siang dengan temannya. Jika Anda menunggu di sini, sebentar ia akan kembali.”

Dromtonpa tidak bisa menunggu. Alih-alih, ia berlari cepat menuju rumah teman itu. Atisha dan Dromtonpa bertemu di salah satu jalan. Walau mereka belum pernah saling bertemu sebelumnya, mereka langsung dapat saling mengenali oleh karena ikatan mereka yang erat di kehidupan sebelumnya. Dromtonpa melakukan sembah-sujud dan Atisha, sambil menawarinya kue jelai, berkata, “Ini makan siangmu. Kau pasti sangat lapar.” Orang awam itu menyantap kue tersebut dan menggunakan mentega untuk membuat persembahan pelita-mentega bagi guru rohani yang baru ditemukannya itu. Sejak saat itu, ia mempersembahkan pelita semacam itu setiap malam tanpa gagal.

Setelah Atisha berada di Ngari selama tiga tahun, ia berangkat bersama penerjemah Nagtso untuk kembali ke India. Namun, perang yang berkecamuk di perbatasan Nepal menghalangi perjalanan mereka. Nagtso menjadi teramat sangat cemas karena kini tampaknya mustahil baginya untuk menepati janjinya pada Kepala Wihara Vikramashila. Atisha segera menenangkan ketakutannya dengan berkata, “Tak ada gunanya mengkhawatirkan keadaan yang berada di luar kendali kita.”

Merasa sungguh lega, Nagtso menulis sepucuk surat untuk Kepala Biara, menjelaskan bagaimana niat baik mereka terpaksa pupus. Sebagai ganti ketakhadirannya, Atisha mengirimkan sebuah salinan Pelita bagi Jalan menuju Pencerahan. Ia juga meminta izin untuk tetap tinggal di Tibet sampai akhir hayatnya. Mereka kemudian kembali ke Ngari.

Di masa sekarang, penerbitan sebuah buku cenderung menjadi kesepakatan niaga sederhana saja. Akan tetapi, pada masa Atisha, sebelum sebuah naskah dapat dicetak, naskah tersebut harus melewati sebuah ujian ketat dari sebuah panitia yang terdiri dari para sarjana, dan sidang ujian ini dipimpin oleh raja yang memimpin di daerah itu. Jika terdapat kekurangan apa pun dalam karya tersebut, karya itu akan diikatkan pada ekor anjing dan diseret dalam debu. Sementara penulisnya, alih-alih memetik pujian dan ketenaran, akan menderita karena kehilangan nama baiknya dengan memalukan.

Naskah Atisha juga harus melewati pengamatan yang sama, dan panitia penguji dengan suara bulat menyetujui nilainya yang luar biasa. Raja yang memimpin sidang bahkan tergerak untuk menyebut bahwa karya tersebut tidak hanya akan membawa guna bagi orang-orang Tibet yang abai, tapi juga bagi orang-orang India yang bercita-tajam. Saat Kepala Wihara Vikramashila membaca naskah itu, ia menulis surat untuk Nagtso, si penerjemah, “Saya sudah tidak berkeberatan jika Atisha menetap di Tibet. Yang ia tulis telah membawa manfaat bagi kita semua. Saya hanya meminta supaya ia sekarang menulis dan mengirimkan pada kami tafsirnya sendiri tentang naskah itu.” Inilah sebab ditulisnya tafsir Atisha sendiri tentang pokok-pokok sukar dalam naskah penting ini.

Segera, Dromtonpa mengundang Atisha untuk pergi lebih jauh ke utara ke Tibet Pusat dan mengunjungi Lhasa. Dalam perjalanan, mereka berhenti di Samyay, wihara pertama yang dibangun di Tibet. Atisha sangat terkesan dengan kumpulan buku berbahasa Sanskerta dan Tibet yang dimiliki perpustakaan wihara itu dan berkata ia tidak berpikir bahwa begitu banyak naskah ajaran Buddha dalam bahasa Sanskerta yang ada bahkan di India sekalipun pada masa itu.

Secara keseluruhan, Atisha menghabiskan 17 tahun di Tanah Salju; tiga di Ngari, sembilan di Nyetang dekat Lhasa, dan lima di berbagai tempat lainnya sampai kematiannya pada tahun 1054 M di usia 72 tahun, persis seperti yang dinubuatkan oleh Tara. Jenazah Atisha dibalsem dan diabadikan di Nyetang dan, dua tahun setelah itu (1056 M), Dromtonpa, orang awam yang dihormati, membangun Wihara Radreng, pusat terpenting dari aliran Kadam yang meneruskan silsilah gurunya.

Nagtso si penerjemah mengingat bahwa tak sekali pun selama bertahun-tahun mereka bersama Atisha mengatakan atau melakukan sesuatu hal yang tidak menyenangkan. Dengan mengajarkan jalan terpadu tentang sutra dan tantra, guru agung dari India itu telah menyelesaikan tugas besar membentuk ulang dan menghidupkan kembali penyebaran Dharma lengkap dari Yang Jaya di Tibet. Pada kenyataannya, karena kebaikannyalah aturan-aturan suci ini bertahan dalam bentuk aslinya sampai sekarang.


Percaya pada Satu Kebenaran atau Banyak Kebenaran

Posted On 13.16 by Unknown 0 komentar

Yang Mulia Dalai Lama Keempat Belas
Hamburg, Jerman, 21 Juli 2007
dicatat oleh Alexander Bazin


Beberapa agama percaya pada satu kebenaran dan sebagian lain percaya bahwa ada sejumlah kebenaran. Bagaimana kita mendamaikan perbedaan itu?

Sebagai contoh, sebagian orang sungguh percaya bahwa agama mereka adalah agama yang semata-mata benar dan paripurna, sementara agama lain salah. Namun, agama adalah perkara pribadi, perorangan. Jadi bagi siapa saja, apa yang ia percayai dan ikuti, kenyataannya, adalah satu-satunya agama baginya. Tapi meskipun bagi teman-teman saya yang percaya bahwa terdapat hanya satu agama sejati bagi setiap orang, kenyataannya ada beberapa agama di dunia dan beberapa kebenaran. Kita perlu menerima kenyataan. Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan adanya sejumlah kelompok orang dan lingkungan, keberadaan beberapa agama sepenuhnya baik-baik saja.

Bagi mereka yang merasa bahwa hanya ada satu kebenaran, satu agama, lanjutkan dan pertahankan agama itu. Tapi tolong hormati agama-agama lain karena semua agama itu memberikan manfaat mendalam bagi saudara dan saudari saya. Oleh karena itu, saya mengagumi, menghargai, dan menghormati semua agama―Kristen, Islam, Yahudi, Hindu.

Beberapa orang Kristen menggambarkan saya sebagai seorang Kristen yang baik. Saya menganggap sejumlah orang Kristen sebagai pengikut Buddha yang baik. Saya menerima semua laku utama dalam ajaran Kristen―pengampunan, welas asih, derma, dan seterusnya. Saya menganggap sebab dan akibat sebagai dasar agama, sementara orang Kristen menganggap Tuhan sebagai dasarnya. Saya memberitahu mereka bahwa ajaran tentang kemunculan yang bertalian dan kehampaan adalah urusan kami sendiri, bukan perkara Anda. Anda tidak perlu mempertimbangkan hal itu. Tapi ajaran-ajaran lain, seperti yang berkenaan dengan cinta dan welas asih, dipegang oleh kita semua secara umum. Ajaran-ajaran yang dimiliki bersama ini adalah dasar bagi semua keselarasan.

Sumber : http://www.berzinarchives.com/web/id/index.html


Minggu, 15 April 2012

Umat Buddha dan Gunung Emas

Posted On 01.26 by Unknown 0 komentar

Oleh : Bhiksu Wu Thung, (Pengalaman dan nasehat-nasehatnya, 2000)


Ada dua hal pokok menurut Bhiksu Wu Thung yang harus dilakukan umat Buddha. Nien cing (baca sutra/mantra) dan menolong orang. Baca Sutra dan mantra dapat membantu kita mendaoatkan kebijaksanaan, membuat kit menjadi cemerlang. Hati yang welas asih dan banyak menolong orang dengan tanpa pamrih, akan mendatangkan hoki yang baik, dan membuat hidup kita lebih makmur sejahtera.

orang pergi beramai-ramai saat menemukan gunung emas. jika kita pulang dari gunung emas dengan tangan kosong, tentu percuma sekali. Demikian juga halnya, Umat Buddha yang tidak nien cing seperti orang yang pulang dari gunung emas dengan tangan hampa.

Umat Buddha harus nien cing, sehari paling tidak satu kali. apa saja juga boleh, miasalnya Ta Pei Cou (Maha Karuna Dharani), baca Ta Pei Cou boleh 3, 7, atau 21 kali sekali baca. Yang penting saat sedang membaca, ucapan, tubuh, dan hati harus satu. Hati jangan melayang kemana mana. Harus dilakukan tiap hari pada saat yang sudah ditentukan. Mesti ada semangat, tidak boleh hari ini nien cing, besok berhenti, besoknya nien cing lagi. seperti kita masak air, kalau apinya sebentar-sebentar dipadamkan, tentu susah mendidih.

Dulu di Tiongkok ada seorang Bhiksu yang kalau bicara tidak didengar sama sekali sama orang-orang. Semua mencemooh dan mengabaikannnya. Dia diberi nasehat untuk menyepi di Vihara dan terus nien cing dengan tulus. Lebih kurang 20 tahun dia menyepi dan nien cing. Disamping itu, setiap ada kesempatan dia selalu menolong makhluk hidup, seperti memberi makan burung, ia selalu menyebut "AMITOFO"

Setelah 20 tahun menyepi, akhirnya dia 'turun gunung'. Sejak saat itu, banyak sekali orang datang meminta nasehat darinya. Ini menunjukan akibat karma dapat dirubah, dan berbuat kebajikan sambil melafal nama Buddha akan membawa pahala yang laur biasa.

Pernah sekali, ada seoarang Bhiksu yang memelihara burung beo. Setiap kali lewat di depan burung beo, ia akan menayapa, "NAMO AMITOFO"

Lama-lama burung beo itu bisa mengeluarkan suara, "NAMO AMITOFO"

Setiap kali orang lewat didepannya, burung beo akan menyebut, "NAMO AMITOFO"

Suatu hari, burung itu mati, lalu dikubur. dari tanah itu tumbuh bunga teratai. Orang-orang pada terkejut. Setelah digali, ternayata bunga teratai tumbuh dari mulut sang beo tersebut. Burung beo saja kalau menyebut, "NAMO AMITOFO" bisa memuahka hasil, apalagi manusia. :)

Memang, pada awalnya nien cing sulit dialkukan. Dibutuhkan tekad yang kuat. Saat baca cing, bentuk-bentuk pikiran suka berkelebat mucul. Begitu sadar pikiran berkeliaran, segera kembali kesuara cing yang diucapakan. Dengarkan baik-baik suara yang keluar dari mulut. Yang penting hati harus tulus. tanya dalam hati siapa yang lagi baca cing. Kalau pikiran lari, tanya lagi dalam hati siapa ini yang sedang baca cing, nanti lama-lama akan berhasil.

Dulu ada seorang Bhiksu. yang satu kalau sedang nien cing, hatinya suka kemana mana. Oleh sahabatnya, dia dinasehati untuk konsentrasi waktu baca nien cing. Suatu hari ia wafat, dan masuk kesuatu tempat yang gelap gulita. Di depannya ada kitab suci tapi tidak terbaca karena gelap. Setempo-temponya ada mahkluk halus yang lewat didepannya dengan membawa lentera kecil. Sekilas kalu dia lewat, kitab suci bisa terbaca. Tapi hanya sebentar. Ternyata banyak kursi disana, dan yang ada ditempat itu semaunya bhiksu tau Sai Kong (Pendeta TAO). Dia merasa sedih dan ketakutan. Akirnya dia teringat ucapan sahabatnya. Jadi dia membuat sahabatnya bermimpi, dan bercerita padanya soal ini.

Dalam mimpi itu sahabatnya bilang, "kau sih, tidak percaya omongan saya. kamu sudah bisa hafal cing apa?"

"Amitocing (Sutra Amitabha)."

"Kalau begitu, kamu baca cing itu saja setiap waktu disana. Tapi harus memusatkan perhatian, pikiran tidak boleh kemana mana."

Setelah kejadian iti, ia berusaha nien Amitocing dengan penuh konsentrasi meskipun tempat itu gelap gulita. akirnya ia bisa keluar dari tempat itu. Satu hari, ia kembali mendatangi sahabatnya lewat mimpi untuk menyatakan terima kasih.

Dulu juga ada dua orang saudara. dua duanya jadi Bhiksu. Satu pintar sekali berdebat, yang satu tidak pandai berbicara, cuma bisa nien cing (baca Ta Pei Cou). Setiap hari kerjanya cuma nien cing, Satu kali mereka bertemu muka. "Engkau sudah punya kemampuan apa?"

"Cuma bisa nien cing," jawab saudaranya. Dia ketawa terbahak bahak meremehkan. Suatu hari, didepan altar dia melihat saudaranya sedang nien cing, dan seluruh ruangan bisa bergetar. Dia kaget, sehingga sejak hari itu dia juga nien cing (baca Amitocing).

Baca cing banyak sekali manfaatnya. Dulu ada orang yan susah melahirkan. Lalu kakeknya membacakan Cin Kang Cing (Sutra Intan) untuknya. Kahirnya cucu mantunya bisa melahirkan dengan lancar, dan anaknya dikemudian hari menjadi orang yang besar. Kalau ada orang mau melahirkan, dibacakan mantra Cin Kang Cing, manfaatnya akan baik ekali bagi ibu dan anaknya.

Bagaimana dengan Ko Ong Kwan Se Im Keng? menurut Bhiksu Wu Thung. itu cing tidak ada dalam sutra agama Buddha. mau dibaca juga tidak ada apa-apa. Tapi itu bukan sutra Buddha.

Lalu apakah dengan nien cing orang bisa menjadi hidup makmur? menurut Bhiksu Wu Thung, kalau hendak hidup makmur harus bekerja keras dengan benar dan memupuk hati yang welas asih, banyak menolong orang tanpa pamrih. Nien cing akan membantu orang menjadi bijaksana dan cemerlang. Bukan untuk mebuat orang menjadi kaya.

Sehari-hari Bhiksu Wu Thung membaca Ta Pei Cou sebanyak 21 kali dipagi hari, Amitocing sebanyak 2 kali dan Wang Sen Cou sebanyak 21 kali. Cou yaitu mulut, hati, dan tubuh menjadi satu. Mulut bersih, hati bersih tidak memikirkan yang jelek, tidak membenci, iri, dan sebagaiannya. dan tubuh tidak boleh melakukan kejahatan.

Nien cing itu seperti tongkat. jika kita nien cing, kita tidak akan takut kemanapun kita pergi, ketempat tinggi, tempat terjal, tempat rendah, kita tak akan takut karena ada tongkat ditangan yang siap menopang.

~Amitofo~


Selasa, 28 Februari 2012

Kebutuhan dan Keinginan

Posted On 09.59 by Unknown 0 komentar

Artikel ini diambil dari Ceramah Dhamma Oleh : Bhante Uttamo (Beda Kebutuhan dan Keinginan)
Sumber : CeramahDhamma.com  


Senin, 27 Februari 2012

Apakah Agama Buddha Selaras Dengan Sains?

Posted On 01.53 by Unknown 0 komentar

Di zaman moderen kita ini dimana sains mulai mempertanyakan kebenaran dari ajaran-ajaran agama terkemuka di dunia ini, kita sering mendengar orang-orang beragama yang mengaku agama mereka selaras dengan ilmu sains moderen.  Bahkan Presiden Amerika, Barack Obama, sekalipun mencalonkan Francis Collins sebagai direktur National Institute of Health (NIH), institusi yang memiliki dana uang terbesar dalam riset sains.  Dr. Francis Collins adalah seorang umat Kristen yang mengaku bahwa ilmu sains moderen tidak bertentangan dengan agama Kristen.  

Sepertinya urusan agama ini selalu dikaitkan hampir ke semua aspek kehidupan ini, baik itu politik, sains, bisnis, dst.  Masalahnya adalah agama tidak dapat dicampur adukan dengan hal-hal lain di dunia ini, termasuk di antaranya adalah politik dan sains.  Ketika kita mencampur adukan agama dan politik, maka apa yang akan terjadi adalah agama dari penduduk mayoritas membentuk hukum-hukum di negara tersebut.  Penduduk dari agama minoritas menjadi tersudut. Hidup bermasyarakat menjadi tidak harmonis.  Akan tetapi karena di dunia ini terdapat terlalu banyak orang yang fanatik, yang merasa agama merekalah yang terbaik, yang menaruh agama mereka di atas segala-galanya, maka tak heran para politikus selalu mencoba mengambil nama agama untuk memenangkan posisi mereka.

Kenyataan ini terlihat di pemilihan presiden di Indonesia dan di Amerika.  Di Indonesia, isteri-isteri dari calon presiden menaruh iklan-iklan dengan foto berjilbab mereka dengan harapan masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam akan memilih suami mereka.  Di Amerika, gosip-gosip yang menyebarluas tentang Barack Obama adalah penganut Islam tidak lain adalah supaya masyarakat Amerika yang mayoritas Kristen tidak memilih Barack Obama sebagai presiden.  Ini telah menjadi siasat umum dari para politikus.

Seperti layaknya agama dan politik, agama dan sains juga tidak bisa selaras sepenuhnya karena prinsip dasar mereka yang cukup berbeda.  Agama menekankan pada keyakinan, sedangkan sains justru menekankan pada observasi terhadap fenomena bermateri.  Ruang lingkup sains tidak mencakup hal-hal yang tak bermateri (spiritual).  Ruang lingkup agama justru adalah spiritual.  Beda prinsip dasar ini saja kiranya cukup membuat kita menolak keselarasan antara agama dan sains.

Agama Kristen, Islam, dan Yahudi mempercayai bahwa Tuhan menciptakan manusia (Genesis).  Sains telah cukup lama menolak pernyataan dari mereka ini.  Bukti-bukti kuat adanya evolusi tidak dapat disangkal lagi oleh para ilmuwan.  Evolusi terjadi beriringan dengan waktu: makhluk hidup beradaptasi dan yang tak mampu akan punah dan yang berjaya akan meneruskan keturunan mereka.  Kenyataan yang kejam tapi nyata. 

Perubahan dan mutasi dari makhluk hidup ini akan diteruskan ke keturunan mereka bila itu menguntungkan.  Tetapi bila mematikan, maka mereka akan tersapu bersih dari muka bumi ini.  Oleh adanya seleksi alam inilah, maka species-species terbentuk secara perlahan-lahan.   Jelasnya manusia dan semua makhluk hidup di dunia ini mengalami perubahan.  Sains tidak dapat menerima bahwa manusia muncul di dunia ini dengan wujud seperti kita sekarang ini.  Oleh karena itu, agama telah lama ditolak oleh komunitas ilmuwan.  Tetapi apakah Tuhan itu ada keberadaannya atau tidak bukanlah hal yang dapat dibuktikan dengan sains.  Yang jelas adalah manusia tidak diciptakan oleh Tuhan seperti yang dikatakan dalam agama-agama mereka.

Semua kritikan di atas telah menyudutkan agama lain dan sejauh ini belum membahas hubungan antara agama Buddha dengan sains.  Seperti yang disebutkan di atas, agama mengandung cukup banyak unsur keyakinan.   Walaupun Buddha berkata, “Janganlah engkau meyakini apa yang tertera dalam kitab suci, akan tetapi setelah kamu pertimbangkan dengan seksama,...barulah pantas kamu menerimanya“ (Kalama Sutta, AN 3.65), tetapi pada kenyataannya banyak umat Buddha yang  siap menerima semua yang tertera di kitab suci mereka.  Satu hal yang banyak dilupakan oleh umat manusia adalah kitab suci itu adalah tulisan manusia.  Kita tidak dapat memastikan semua yang tertera di sana adalah benar-benar seruan dari “pendiri” agama tersebut.  Untuk agama Buddha, kitab suci yang setebal ribuan halaman tidaklah mungkin semuanya bersumber dari Buddha.

Kita ambil contoh.  Acchariya Abbhuta Sutta (MN 123) menyebutkan bahwa pangeran Siddhatta, yang kelak akan menjadi Buddha, dilahirkan dari rahim ibunya dengan “bersih”, yakni tubuhnya tidak dikotori oleh darah dan cairan lainnya sewaktu baru lahir.   Sesuai dengan ilmu biologi, tidak ada manusia yang dapat dilahirkan oleh ibunya sedemikian rupa.  Sesungguhnya Buddha sekalipun mengaku bahwa tubuhnya tak luput dari usia tua.  Gejala-gejala penuaan, yakni kulit yang mengeriput, mata, telinga, dan organ persepsi lainnya yang melemah diterima oleh Buddha sendiri sebagai bagian nyata dari hidup ini (Jara Sutta, SN 48.41).  Jadi walaupun ia telah mencapai tingkat kebuddhaan, ia juga tak terluput dari tubuh yang kian melemah. 

Bagaimana mungkin ketika ia masih bayi dan belum mencapai tingkat kebuddhaan, ia dapat dilahirkan sedemikian rupa?

Kutipan MN 123 ini menunjukan bahwa isi dari kitab suci agama Buddha juga mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan sains.   Cukup banyak lagi dari isi kitab suci agama Buddha yang tidak dapat diterima oleh sains.  Perlu disadari bahwa sains tidak dapat membuktikan hal-hal yang diluar ruang lingkupnya, yakni fenomena-fenomena yang tak bermateri.  Contohnya surga, neraka, dan Nibbana adalah hal-hal yang tidak dapat dibuktikan oleh sains.   Akan tetapi fenomena-fenomena yang bermateri mempunyai kemungkinan untuk dibuktikan kebenarannya.

Para ahli yang terpelajar telah menganalisa struktur dan tata bahasa, serta isi dari kitab suci agama Buddha.  Pertentangan diantara sesama isi kitab suci agama Buddha telah menjadi cukup nyata (Ref: Kisah sebuah rakit tua; oleh pengarang), dan hal ini telah mengajukan sebuah tanda tanya besar: mana dari isi kitab suci ini yang sesungguhnya berasal dari Buddha?  Apa yang disebutkan di Kalama Sutta tiba-tiba menjadi lonceng yang membangunkan kita dari tidur yang nyenyak!

Maka seharusnyalah kita menyadari bahwa agama tidak dapat kita campur adukan dengan sains.  Membandingkan isi kitab suci dengan kebenaran sains dapat dilakukan sejauh itu masih dalam ruang lingkup sains.  Kalau tidak, maka sains tidak dapat digunakan untuk membuktikan kebenarannya.  Isi dari kitab suci tidak semuanya benar, dan ini mungkin kejam tapi nyata.


Kontroversi Era Modern

Posted On 01.43 by Unknown 0 komentar

Telah muncul berbagai hal yang kontroversi dalam hidup bermasyarakat di zaman modern kita. Hal-hal ini tidak dibahas di zaman Buddha karena belum sesuai zamannya. Artikel ini akan membahas 2 topik kontroversi, yakni seks dan cloning (pengarasan).



A.  Seks dan homoseksual
Apakah pandangan Buddhis tentang homoseksual ? Untuk menjawab pertanyaan ini dengan lebih sistematis, marilah kita menganalisa bersama beberapa alasan khas yang melarang hubungan homoseksual:

1.  Hubungan homoseksual itu tidak alamiah
Bila seseorang mengecam kaum homoseksual dengan alasan bahwa homoseksual itu bukanlah hal yang alamiah (bukan dari awalnya demikian), maka ia juga seharusnya mengecam kaum heteroseksual dengan alasan yang sama.  Karena menurut ajaran Buddha pada awal terbentuknya dunia ini [DN 27] makhluk tidak memiliki kelamin. Kemudian perlahan-lahan tubuh mereka menjadi lebih padat (karena makan-makanan yang berzat padat). Perbedaan kelamin menjadi lebih menonjol dan pada saat itulah terdapat beberapa orang yang mulai berhubungan seks. Mereka dicaci dan dikucilkan karena pada saat itu hubungan seks dianggap tak sesuai norma.  Dan sepertinya cacian dan pengucilan terhadap kaum homoseksual terulang kembali seperti halnya dulu terhadap kaum heteroseksual. Begitulah pandangan dunia ini yang selalu berubah menurut perkembangan zaman.

2.  Kaum wanita diciptakan untuk kaum pria
Tentunya dalam ajaran Buddha tidak dikenal istilah, “Kaum wanita diciptakan untuk kaum pria.”  Bacalah Dîgha Nikâya 27 [DN 27] yang berisi penjelasan Buddha tentang evolusi—awal terbentuknya manusia di muka bumi ini.

3.   Ajaran Buddha menganjurkan pernikahan heteroseksual
Hubungan seks, baik itu homoseksual maupun heteroseksual adalah berakar pada keserakahan (lobha). Dengan sendirinya, ajaran Buddha tidak dapat menganjurkan kedua-duanya. Buddha dengan tegas melarang hubungan seks kepada para bhikkhu. Bagi mereka yang masih terikat pada kehidupan duniawi, Buddha memberikan petunjuk hidup berkeluarga yang baik [DN 31]. Tapi hal ini tidak boleh diartikan bahwa Buddha menganjurkan perkawinan. Manusia sudah hidup berkeluarga sebelum Buddha muncul di dunia ini. Dan karena Buddha menyadari bahwa tidak semua umat berkeluarga dapat (hendak) melaksanakan hidup ke-bhikkhhu-an, maka kehidupan berkeluarga tidak dilarang Beliau (tetapi tidak dianjurkan juga).

Jadi apakah ajaran Buddha memperbolehkan hubungan homoseksual ?  Mari kita meneliti kembali apa yang diajarkan Buddha kepada umat awam-Nya tentang hal yang berhubungan dengan seks.

Sebenarnya tujuan sîla adalah untuk melatih diri. Jadi sîla melatih perbuatan kita (sebagai landasan) sehingga pikiran kita nantinya akan lebih mudah terlatih (bhâvanâ), yakni terhindar dari rasa bersalah, keresahan, dan seterusnya [AN 11.1].  Bila suatu perbuatan mendatangkan keresahan dan kekhawatiran (apalagi penyesalan yang berkepanjangan), maka perbuatan tersebut seharusnya kita hindari.

Hubungan seks yang tidak baik (tercela) adalah hubungan seks yang dilakukan dengan seseorang yang telah berpasangan (telah memiliki pacar, tunangan, suami/isteri) atau dilindungi ayah, ibu, saudara, saudari, famili (relative), atau Dhamma (ajaran keyakinannya, norma wilayah setempat, dan lain-lain) [MN 41].  Jadi bila seseorang berada di wilayah yang melarang hubungan homoseksual, maka seks homoseksual seharusnya dihindari.  Bila seseorang berada di wilayah yang tidak melarangnya, maka hubungan tersebut tidak termasuk seks yang salah asalkan semua faktor di atas terpenuhi (tidak tercela). Ajaran Buddha bukanlah ajaran yang menentukan apakah segala tindak-tanduk kita itu benar atau tidak benar, baik atau tidak baik.  Diri sendirilah yang seharusnya sadar akan kerugian dari perbuatan yang tercela.

Umat Buddha dianjurkan untuk berusaha mengurangi nafsu keserakahan dan kebencian.  Jadi sudah selayaknya lah kaum heteroseksual tidak membenci kaum homoseksual. Ajaran Buddha tidak mengajarkan hal lain selain jalan menuju lenyapnya dukkha.  Jadi kurang pantaslah bila seseorang mengatakan bahwa ajaran Buddha memperbolehkan hubungan seks, baik itu heteroseksual maupun homoseksual.
Buddha telah menunjukkan katagori seks yang akan membawa pada penderitaan yang besar kepada umat awam. Dan kepada para petapa, Buddha menunjukan bahayanya segala hal yang berhubungan dengan seks.

B.  Cloning/Pengarasan
Secara umum, definisi cloning atau pengarasan adalah proses memperbanyak materi biologi yang dapat mencakup DNA, sel, tissue, organ, maupun organisme, di mana materi yang diperbanyak tersebut (clone) memiliki DNA yang sama dengan induknya. Karena DNA (deoxyribonucleic acid) menyimpan informasi genetik, maka clone memiliki informasi genetik yang sama dengan induknya. Ada 3 jenis cloning/pengarasan :

1.  DNA cloning
2. Therapeutic cloning
3. Reproductive cloning

Ketiga jenis cloning/pengarasan ini akan dibahas disusul dengan pembahasan dari segi etikanya.

1. DNA cloning
Apa itu DNA cloning ?
DNA cloning juga dikenal dengan sebutan molecular cloning, recombinant DNA technology, dan gene cloning. Sesuai definisi yang diberikan di atas, maka materi biologi yang di-clone dalam proses DNA cloning adalah DNA itu sendiri. Dengan demikian, boleh dikatakan DNA cloning adalah jenis cloning yang paling sederhana di antara ketiga jenis cloning. Ilmuwan menggunakan recombinant DNA technology untuk memproduksi protein (protein expression & purification), mentransfeksi sel (transfection) untuk mempelajari fungsi protein tersebut di dalam sel, dan untuk berbagai aplikasi biologi lainnya.

DNA cloning dari segi etika Buddhis
Karena DNA cloning umumnya tidak merugikan makhluk hidup, maka DNA cloning tentunya tidak bertentangan dengan etika Buddhis. DNA cloning merupakan teknik biologi yang digunakan secara luas dan bebas di laboratorium-laboratorium biologi di seluruh dunia.

2. Therapeutic cloning
Apa itu therapeutic cloning?
Therapeutic cloning adalah proses cloning jaringan (tissue) maupun organ, di mana hasil clone tissue/organ tersebut hanya akan digunakan untuk keperluan terapi medik. Therapeutic cloning diawali dengan proses somatic cell nuclear transfer (SCNT), di mana nucleus (inti sel) dari ovum (sel telur) diganti dengan nucleus dari sel somatik yang akan di-clone (induk). Sel somatik mencakup sel-sel tubuh kecuali sel reproduktif (sperma dan ovum). Dengan kata lain, SCNT terdiri dari 3 tahap, yakni :

1) melenyapkan/ membuang nucleus ovum,
2) mengambil nucleus somatik,
3) menaruh nucleus somatik tersebut ke dalam ovum yang telah tak bernucleus.

Jadi proses mikroskopik SCNT ini akan menghasilkan sel ovum yang nucleus-nya berasal dari (telah diganti dengan) sel somatik. Sel ovum yang memiliki genetik yang sama dengan sel somatik (induk) ini kemudian akan berkembang menjadi blastocyst (tahap awal dalam pembuahan) yang mengandung stem cell, yakni sel yang mampu berkembang (differentiate) menjadi berbagai jenis sel tubuh. Stem cell inilah yang akan kemudian dibuat (induced) berkembang menjadi tissue maupun organ.

Singkatnya, bila anda ingin mendapat jantung baru karena jantung lama anda telah mengalami kegagalan, maka ilmuwan akan mengambil sel tubuh anda (misalnya sel kulit anda), kemudian mengambil inti sel kulit anda tersebut dan memasukannya ke dalam sel ovum (dari pendonor wanita) yang telah dilenyapkan inti selnya terdahulu. Kemudian sel tersebut dibiarkan berkembang, dan stem cell yang dihasilkan akan diambil untuk dibuat tumbuh menjadi jantung baru anda.

Apa manfaat therapeutic cloning?
Manfaatnya sangat besar ! Pasien yang mengalami kegagalan jantung, ginjal, dan organ penting lainnya dapat memperoleh organ baru. Mengapa kita tidak cukup mengambil organ dari pendonor? Karena sangat sulit mencari donor yang cocok dengan kita (immunohistocompatibility). Organ yang tidak cocok akan menyebabkan immune system kita menyerang organ tersebut karena tubuh kita menganggap organ tersebut sebagai ‘asing'. Akibatnya organ tersebut akan mengalami kegagalan. Jadi manfaat therapeutic cloning itu jelas, yakni sebagai alternatif baru untuk terapi medik.

Therapeutic cloning dari segi etika Buddhis
Walau belum terdapat kesepakatan antara para ilmuwan biologi dan kaum terpelajar Buddhis lainnya tentang therapeutic cloning ini, akan tetapi jelas bahwa dalam Buddhisme sel-sel tubuh kita tak dianggap sebagai makhluk hidup. Yakni, tidak dikenal bahwa masing-masing sel, tissue, maupun organ di tubuh kita itu memiliki unsur batiniah (Pâïi: nâma). Jadi sel ovum dan sperma bukanlah termasuk makhluk hidup yang memiliki kesadaran. Tetapi setelah terjadinya pembuahan (bersatunya ovum dan sperma), maka terbentuklah secara perlahan-lahan sel-sel yang akan tumbuh menjadi janin melalui proses yang dikenal sebagai embryogenesis.

Bayi yang lahir tersebut memiliki unsur batiniah (nâma) dan fisik (rûpa). Jadi pertanyaannya adalah “Di tahap mana dari embryogenesis ini mulai terbentuknya kesadaran?”

Pertanyaan ini penting karena dalam pandangan Buddhis, makhluk hidup terdiri dari unsur batiniah (nâma) dan fisik (rûpa) [SN 12.2]. Hubungan antara unsur batiniah dan fisik ini sangat erat dan tak bisa dipisahkan. Tanpa telinga dan sistem syaraf pendengaran kita tidak akan mampu mendengar. Tanpa kesadaran yang cukup kuat, misalnya sewaktu lagi tertidur (atau selagi pingsan), kita juga tidak akan mampu mendengar suara-suara halus yang mampu kita dengar sewaktu kita terjaga. Jadi hubungan antara unsur batiniah dan fisik ini sangatlah erat dan sulit dipisahkan. Mereka saling membutuhkan. Tapi kapankah terbentuknya unsur batiniah ini dalam proses embryogenesis ?

Stem cell terbentuk sekitar 4 – 5 hari setelah pembuahan (fertilization). Dalam tahap ini, tidak ditemukan bukti-bukti adanya kesadaran. Karena kesadaran sangat erat hubungannya dengan sistem syaraf, yakni tanpa sistem syaraf kesadaran kita tidak akan berfungsi, maka patut kita melakukan penelitian kapan mulai terbentuknya sistem syaraf dalam proses embryogenesis ini. Proses terbentuknya sistem syaraf dalam embryogenesis dikenal sebagai neurulation, dan prosesnya dimulai sekitar minggu ketiga setelah pembuahan (Ref: Am J Med Genet C Semin Med Genet, 135C(1): 2 - 8). Ini adalah saat yang paling awal embrio tersebut dapat dikatakan memiliki sistem syaraf. Saat ini sistem syarafnya masih baru saja mulai terbentuk, dan tentunya masih jauh dari selesai. Oleh karena alasan inilah, maka tahap embryogenesis di hari 4 - 5 post-fertilization itu masih belum dapat tergolong sebagai makhluk hidup. Dan pengambilan stem cell dari tahap embryogenesis ini seharusnya tidak dianggap sebagai pembunuhan karena belum dapat tergolong sebagai makhluk hidup, yakni belum terdapat bukti telah terbentuknya kesadaran. Dari argumen ini, maka therapeutic cloning, andaikata saja dilakukan di minggu pertama pembuahan, tidak dapat disebut sebagai pembunuhan. Dengan sendirinya, praktik therapeutic cloning seharusnya tidak dianggap bertentangan dengan etika Buddhis.

3. Reproductive cloning
Apa itu reproductive cloning?
Reproductive cloning adalah proses membuat organisme baru (clone) di mana DNA clone tersebut memiliki identitas yang sama dengan DNA induknya. Proses yang digunakan dalam reproductive cloning adalah sama dengan proses therapeutic cloning, akan tetapi embrio yang terbentuk tersebut dibiarkan berkembang di dalam rahim (surrogate mother).

Apa manfaat reproductive cloning?
Berbagai manfaat reproductive cloning antara lain, teraihnya ras unggul di dalam industri peternakan yang akan menghasilkan hewan-hewan dan produk hewan yang unggul, membangkitkan kembali species yang telah punah, dan seterusnya.

Reproductive cloning dari segi filsafat Buddhis
Buddhisme berpendapat bahwa munculnya/terbentuknya makhluk hidup bukanlah berasal dari hasil ciptaan, akan tetapi berasal dari kegelapan batin [SN 12.2]. Karena kegelapan batin inilah, makhluk bertumimba lahir.

Dengan lenyapnya kegelapan batin ini, maka lenyap juga tumimba lahir ini. Di sini tidak dikenal adanya ‘ego' (roh, inti, keabadian mutlak), dan makhluk hidup terus bertumimbal lahir dikarenakan kegelapan batin ini. Ajaran ini dikenal juga sebagai hukum sebab akibat (Pâïi: paöiccasamupâda), yakni terbentuknya segala sesuatu adalah karena adanya penyebab. Dengan berakhirnya penyebab tersebut, maka berakhir pula akibatnya. Oleh karena itu, konsep reproductive cloning tidak dapat dikatakan bertentangan dengan ajaran Buddha. Cloning sebenarnya bukanlah proses ilmiah yang aneh dalam pandangan Buddisme karena Buddhisme selalu memandang segala sesuatu sebagai rantaian sebab akibat. Proses cloning hanya dapat berhasil setelah ilmuwan mengerti sebab akibatnya, yakni embrio dapat terbentuk dari hasil pembelahan sel ovum yang ber-nucleus diploid (2 set kromosom). Dengan menyediakan kondisi yang cocok untuk perkembangan embrio, maka tak heran bayi akan terbentuk. Jadi bila kondisi yang tepat ada, maka akan bersatulah unsur batiniah (nâma) dan fisik (rûpa) yang kemudian akan lahir menjadi seorang bayi.

Reproductive cloning dari segi etika Buddhis
Walau dalam aspek filsafat, reproductive cloning tidak bertentangan dengan ajaran Buddha, akan tetapi dalam aspek pragmatic (praktisnya), reproductive cloning masih mengalami banyak permasalahan teknis. Banyak bukti-bukti yang menunjukan bahwa clone memiliki abnormalitas yang belum jelas penyebabnya. Ilmuwan berpendapat bahwa inti sel yang diambil dari induk tersebut mungkin tak optimal untuk dipakai dalam cloning karena semakin pendeknya telomere (ujung DNA akan menjadi semakin pendek setiap kali sel membelah diri). Banyak clone yang tidak dapat hidup sepanjang usia induk mereka. Maka ilmuwan seharusnya memikul tanggung jawab yang berat ini, dan seharusnya reproductive cloning tidak dipraktikan, apalagi dalam skala besar, sampai setelah permasalahan teknis ini telah dapat ditanggani. Tetapi tentunya untuk menanggani permasalahan teknis ini diperlukan percobaan, eksperimen. Dan eksperimen-eksperimen ini tentunya memiliki kecenderungan- kecenderungan yang membentrok dengan etika Buddhis. Seandainya di masa depan proses cloning ini sudah tak mengalami permasalahan teknis, maka reproductive cloning mungkin akan dijadikan praktik masyarakat umum.

(Karya tulis cloning ini adalah hasil rangkuman dari pembahasan cloning berseri yang diselenggarakan di bulan April 2008 di dua tempat, yakni di Los Angeles, California, dan di Columbus, Ohio, USA. Pembicara untuk seri diskusi cloning ini mencakup Y.M. Bhikkhu Jotidhammo Maha Thera (Saõgha Theravâda Indonesia) dan Andromeda (ilmuwan biologis)).


Dhamma Bagaikan Rakit

Posted On 01.27 by Unknown 0 komentar

Keterikatan mulia pada Dhamma
Seperti yang telah disebutkan, Buddha menasihati kita untuk menggunakan Dhamma ini selayaknya seseorang menggunakan rakit. Yakni kita seharusnya hanya menggunakan Dhamma ini untuk menyeberangi pantai seberang (Nibbâna), bukan untuk hal-hal lainnya, seperti untuk mencari perdebatan, permusuhan, kemahsyuran, bahkan bukan untuk sekedar menjadi seorang ahli Dhamma (yang masih belum mencapai pantai seberang). Buddha menyuruh kita untuk melepaskan rakit tersebut setelah tiba di pantai seberang. [MN 22].

Tetapi orang-orang bertanya, “Bukankah dengan berkeyakinan terhadap ajaran Buddha (melatih diri sesuai dengan Dhamma) itu juga termasuk keterikatan?”  Benar!  Tapi keterikatan semacam ini tidak dapat dikatakan tak pantas. Karena keterikatan tersebut bertujuan untuk mengurangi keterikatan lebih lanjut. Dalam perumpamaan rakit di atas, kalau kita tidak terikat (menggenggam) dulu pada rakit itu, maka kita akan tenggelam. Jadi kita hanya terikat pada rakit itu untuk membawa kita ke pantai seberang yang aman.
Marilah kita mempelajari ulang nasihat Bhikkhu Ânanda mengenai hal ini.  Pernah seorang bertanya kepada Bhikkhu Ânanda, "Apakah mungkin keinginan (keterikatan) tertentu dapat melenyapkan (segala) keinginan (keterikatan)?"

Bhikkhu Ânanda menjelaskan demikian [SN 51.15]:
Bagaikan seseorang yang berkeinginan untuk pergi ke taman, maka ia harus mampu membedakan mana arah yang benar dan salah [menuju ke taman tersebut], dan ketika ia telah tiba di taman tersebut, maka keinginannya (untuk pergi ke taman) tersebut akan lenyap dengan sendirinya.

Begitu pula keinginan (keterikatan) pada Dhamma, ia yang bijaksana berkeinginan mengenal (terikat) pada Dhamma, dan jeli dalam "membedakan" hal yang sesuai dengan Dhamma dan yang tidak, dan ketika ia telah mencapai tujuan akhir (Nibbâna), maka (segala) keterikatan akan lenyap dengan sendirinya."

Jadi kita seharusnya dengan sungguh-sungguh menjaga sîla kita, bagaikan seorang menjaga harta berharganya, hanya sejauh untuk melatih pikiran ini.  Pikiran ini juga seharusnya dilatih (termasuk keterikatan) hanya sejauh untuk menembusi Dhamma ini. Dan Dhamma yang telah ditembusi tersebut hanya akan menghasilkan lenyapnya semua keterikatan [AN 11.1, MN 24]. Inilah yang dinamakan “keterikatan mulia pada Dhamma."

Perumpamaan lainnya yang lebih rinci adalah sebagai berikut :  Bagaikan seorang yang ingin mencapai puncak tebing, ia akan memegang erat-erat bagian tebing yang rendah dulu, dan kemudian melepaskan genggamannya pada bagian tebing yang lebih rendah itu untuk meraih bagian tebing yang lebih tinggi (naik ke atas).  Proses ini akan diulang olehnya sampai akhirnya ia mencapai puncak tebing; di mana pada saat itu, ia tidak akan lagi mengenggam tebing tersebut [Pelajarilah perumpamaan yang mirip di MN 24].

Dengan demikian, ajaran Buddha tidak mengatakan, "Tidak diperbolehkan segala jenis keterikatan!" Lebih tepatnya, terikat pada hal dasar (moral) untuk mencapai hal yang lebih tinggi (pelatihan pikiran); dan setelah itu, terikat pada hal yang tinggi untuk mencapai kebebasan total (Nibbâna). Karena setelah mencapai Nibbâna, segala keterikatan akan lenyap dengan sendirinya.  Dan ia yang belum mencapai Nibbâna, tentu masih memiliki keterikatan dalam dirinya. Bedanya, keterikatan jenis apa yang berada dalam dirinya itu ?  Itu juga alasannya mengapa dikatakan bahwa Dhamma ini bersifat bertahap-tahap pelaksanaannya [MN 107].
 
Ketika ketidak-kekalan dianggap nihilistik
Ketidak-kekalan (anicca) memang adalah ajaran Buddha.  Semuanya adalah sementara keberadaannya.  Mulai dari materi yang berbentuk sampai kepada segala unsur batiniah yang tidak berbentuk.  Kebahagiaan yang diperoleh dari perbuatan baik adalah juga tidak kekal.  Penderitaan yang diperoleh dari perbuatan jahat adalah juga tidak kekal.  Yah, kalau dipikir-pikir untuk apa susah-susah berbuat baik ?  Mending “enjoy” saja lah, ya kan ?  Kalau berbahagia, kita menerimanya loh.  Kalau menderita, kita juga menerimanya begitu.
Terus kalau semuanya adalah tidak kekal, apa yang menjadi tujuan hidup ini ?  Apakah kita hanya sekedar berusaha untuk melarikan diri dengan mengatakan semuanya adalah semu, semuanya adalah tidak nyata ?  Bila demikian adanya, maka niat berbuat baik akan dengan sendirinya terkikis habis, niat berbuat jahat tidak akan dilenyapkan.

Jadi apa pandangan yang sesuai dengan Dhamma dan yang bermanfaat bagi kesejahteraan diri kita ?  Perbuatan jahat seharusnya dihindari untuk menjauhi diri kita dari penyesalan, penderitaan, dan keresahan batin. Perbuatan baik seharusnya dikembangkan untuk menghasilkan kebahagiaan, kegirangan, dan ketenangan. Ketidak-kekalan seharusnya dipahami melalui kebijaksanaan dan ketenangan batin yang telah diperoleh sebelumnya dari terhindarnya perbuatan jahat dan berkembangnya perbuatan baik [AN 11.1, MN 22].

Dengan kata lain: Hindarilah perbuatan jahat, kembangkanlah perbuatan baik, raihlah batin yang terhindar dari kerisauan, batin yang penuh energi, dan kegirangan; kemudian sifat-sifat batiniah ini dikembangkan untuk menghasilkan batin yang lebih tenang dan terkonsentrasi.  Batin yang tenang dan terkonsentrasi inilah yang sanggup melihat “segala sesuatu seperti apa adanya” yang kesemuanya memang bersifat tidak kekal.
Jadi perbuatan jahat dihindari demi menghindarkan diri kita dari kerisauan batin.  Perbuatan baik dikembangkan demi menghasilkan ketenangan batin.  Karena tanpa batin yang tenang, bagaimana mungkin ketidak-kekalan ini dapat dipahami dengan sebenar-benarnya ?  Jadi inilah manfaat dari penghindaran diri dari perbuatan jahat, pengembangan diri dengan perbuatan baik, dan pelatihan pikiran melalui meditasi.  Singkatnya: Dengan melatih diri sesuai dengan sîla, kita akan meraih ketenangan.  Dengan teraihnya ketenangan batin ini, kita kemudian menggunakannya untuk melihat kenyataan (Dhamma).


Agama bukan bagaikan pacar baru, mantan isteri, ataupun isteri

Posted On 01.15 by Unknown 0 komentar

Dalam memperumpamakan agama bagaikan pasangan hidup, terdapat setidaknya 4 macam perumpamaan.  Agama dapat diperumpamakan sebagai pacar baru.   Dalam hal ini, seseorang memperlakukan agamanya selayaknya ia memperlakukan pacar barunya.  Pacar baru selalu di mata kita terlihat sebagai ia yang sempurna, yang tak ada cacadnya, yang hanya membawa kebahagiaan.  Dan siapapun yang mengatakan hal-hal buruk tentang pacar baru kita, kita langsung tak senang tanpa menilai terdahulu perkataan orang tersebut.  Banyak umat beragama memperlakukan agamanya selayaknya pacar baru mereka.  Tidak boleh ada hal-hal buruk yang boleh dikatakan tentang agama mereka.  Di dalam diri mereka, agama mereka itulah yang paling sempurna, tanpa cacad, dan yang ditaruh di atas segala-galanya.    Apa kerugian orang yang memperlakukan agamanya selayaknya pacar barunya?  Matanya kabur.  Ia tak berpandangan jernih.  Ia berat sebelah dalam penilaiannya.  Ia malahan rela melakukan hal-hal yang merugikan demi agamanya.

Agama juga dapat diperumpamakan bagaikan seorang mantan isteri.  Banyak orang yang cerai karena pertengkaran yang tak henti-henti, saling dendam, dan tidak saling mengerti.  Kebanyakan orang membenci mantan isterinya, mendendam, dan tidak pernah memaafkan.  Begitu pulalah agama diperlakukan oleh segenap orang.  Misalnya, dulu ia beragama Buddha terus sekarang pindah agama.  Setelah pindah agama, agama Buddha dicacinya seperti ia mencaci mantan isterinya.  Panas dan dendam di hati.  Perumpamaan ini juga berlaku untuk agama lain yang pindah menjadi agama Buddha.  Perlakuan yang tidak profesional seperti ini tidak dianggap bijaksana.  Apa kerugiaannya? Matanya kabur.  Ia tak berpandangan jernih.  Ia berat sebelah dalam penilaiannya.  Ia malahan rela melakukan hal-hal yang merugikan karena agama yang dibencinya tersebut.

Agama juga dapat diperumpamakan bagaikan seorang isteri.  Dalam hal ini, apa yang dimaksud dengan perlakuan seseorang terhadap isterinya adalah ia merasa ia telah memiliki isterinya, tidak terdapat lagi upaya untuk mendapatkan isterinya, untuk merebut hatinya lagi.  Terdapat sifat bosan terhadap apa yang telah ia miliki.  Ia tidak seperti dulu lagi, tidak lagi manis dan tidak lagi menghidupkan suasana romantis.  Upaya telah tiada.  Yang ada hanyalah kewajiban saja, mengantar nasi ke meja makan.  Api asmara telah meredup.  Begitu pulalah orang-orang memperlakukan agama mereka.  Mereka merasa mereka telah beragama, tidak ada lagi yang perlu dikerjakan.  Selesai.  Pilihan telah dibuat.  Dan perumpamaan ini sangatlah sesuai untuk sejumlah besar umat beragama, terutama untuk mereka yang pakar dalam agama mereka.  Mereka merasa terlalu leluasa, tidak ada lagi tantangan, mereka telah mengetahuinya semua.  Apa kerugiannya bila kita memperlakukan agama kita seperti ini?  Kita tidak akan maju-maju.  Yang ada hanyalah kemerosotan seiring berajalannya waktu.  Semangat palsu menggantikan semangat asli dari hati nurani yang telah lama padam.
Kita semua pernah terperangkap setidaknya di salah satu dari 3 fase ini. Tetapi sebagai seorang yang bijak, kemampuan untuk mengkritik dan menilai diri sendiri disanjung sebagai kwalitas yang bijaksana.  Hanya orang-orang yang bersedia mengkritik dirinya sendiri dari saat ke saat yang akan maju dan berkembang.  Mereka yang lalai akan hidup angkuh dan tak berkembang.  Dan mereka yang terlalu banyak mengkritik dirinya akan hidup merana.

Nah, terdapatlah perumpamaan terakhir ini.  Ia yang memperlakukan agama selayaknya seorang bujangan mencari pasangan hidupnya itulah yang memperlakukan agama tersebut dengan baik dan benar.  Bagaimana seorang bujangan mencari pasangan hidupnya?  Ia akan jeli menilai, membanding, menguji, merenung, “Apakah cewek ini bisa menjadi seorang isteri yang baik?  Apakah ia dapat mengerti diriku?  Apakah ia cocok denganku?  Apakah kita dapat hidup bersama sampai tua?”   Bila ada yang mengatakan kepadanya, “Eh, kamu tahu gak, kalau cewek ini begini...begitu...”  maka ia akan mendengar keluhan tersebut dan menilainya sendiri benar tidaknya keluhan tersebut.  Sanjungan terhadap wanita itu juga diperlakukannya sedemikian rupa.  Begitu jugalah kita seharusnya memperlakukan agama kita.  Semua sanjungan dan kritikan harus kita terima dan teliti kebenarannya.

Mungkin kita harus kembali ke penjelasan yang diberikan sendiri oleh petapa Gotama [DN 1]:
“O, bhikkhu , seandainya orang lain mengatakan hal-hal buruk tentang diriku, ajaranku, atau perkumpulan petapaku (Sangha), engkau tidak seharusnya menjadi kesal, marah, tak senang.  Jikalau engkau menjadi marah dan tersinggung, itu hanyalah akan menghalangi petapaanmu.  Dan jikalau engkau marah dan tersinggung, bagaimana engkau dapat menilai kebenaran dari ucapan mereka?”
“Tetapi ketika orang lain mengkritik diriku, ajaranku, perkumpulan petapaku, engkau seharusnya meneliti kenyataannya...”
“Dan juga, O, bhikkhu, seandainya orang lain mengatakan hal-hal yang memuji diriku, ajaranku, atau perkumpulan petapaku, engkau tidak seharusnya menjadi senang, suka, dan gembira.  Jikalau engkau demikian, itu hanyalah akan menghalangi petapaanmu.  Tetapi engkau seharusnya mampu menilai kebenaran dari ucapan mereka...”


Jumat, 24 Februari 2012

Buddha Membentuk Negara Duniawi

Posted On 13.40 by Unknown 0 komentar

Jika Tiongkok kuno dikatakan sebagai keturunan sang Naga, kalau begitu India kuno pun bisa dikatakan sebagai penerus Boddhisattva. Belum lama ini, di museum sejarah nasional, Taipei/Taiwan telah dipamerkan 169 buah benda pameran yang berasal dari museum Calcutta. Melalui proses sejarah yang sudah 5.000 tahun lamanya, kita telah dapat melihat sebuah negara duniawi yang diciptakan oleh Buddha.
Tidak Menghargai Sejarah

Karena pengaruh daripada budaya penyebaran Buddha, maka orang India itu percaya sekali akan reinkarnasi, kehidupan itu datang ke dunia ini sesuai dengan karma sebab-akibatnya, bagai rembulan menyinari datang ke bumi, hari demi hari, dengan demikian India pun peroleh nama seperti ini. Tidak hanya itu saja, orang India pun percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini ada di tangan sang dewa, diciptakan dan dimusnahkan sesuai hukum tertentu, ketika sebuah siklus berakhir, seluruh alam semesta, dewa-dewi, binatang dan materiil akan ditelan oleh air bah besar, lewat kondisi kacau balau suatu saat, kemudian akan ada selapis langit Buddhis tercipta kembali, siklus ini berlangsung terus-menerus.


Berdasarkan legenda genesis orang India, mereka seolah-olah hidup dalam aliran sungai alam semesta, oleh karenanya mereka tidak menghargai sejarah. Karl Marx berkata: "Orang India tidak mempunyai sejarah!" Mereka tak punya gagasan kronologi sejarah, kalau berbicara tentang suatu peristiwa selalu 'pada dahulu kala, dahulu kala, ada seorang rajac.' Ditinjau dari kitab Buddha yang ada sekarang ini, kisah selalu berawal dengan: "Seperti apa yang saya dengar, ketika Buddha masih adac", di tengahnya diikutsertakan puisi puji-pujian pada sang Buddha, berulang-ulang fenomena tersebut secara terperinci memancari wajah asli saat itu. Kita dapat merasakan khidmatnya, serta hati orang yang takwa, tapi bagi orang modern yang terbiasa dengan keteraturan, suka akan ekspedisi dan menyelidiki, gemar analisa terperinci itu, sulit bisa menerima sepenuhnya pemikiran pada kepercayaan orang India yang begitu unik.


Yang jelas adalah bahwa tampaknya orang India itu tidak mementingkan turun-naik dan pasang-surut duniawi, yang mereka perhatikan ialah dunia Buddha dan Batara. Buddha Sakyamuni pernah bersabda, Buddha seperti butir pasir di sungai Gangga, banyaknya tak terhitung jumlahnya. Dalam agama Hindu mengatakan bahwa dewa-dewi mencapai tiga ratus tiga puluh tiga juta banyaknya. Sejarah legenda mereka, isinya bukan berkisah tentang para kaisar, menteri dan jenderal, cendekiawan atau gadis cantik rupawan serta rakyat jelata, tapi justru kisah tentang Buddha dan dewata.


Dua puisi terkenal dari India yakni Ramayana dan Mahabhrata, hampir dapat dikatakan sebagai ensiklopedinya orang India, budaya India naik ke permukaan lewat kisah epos/epik. Menurut versi Ramayana bahwa jagat raya ini terkandung unsur jagat raya dan berlapis-lapis tak terhingga. Strukturnya sangat mirip dengan apa yang ditemukan oleh ilmuwan sekarang mengenai komposisi kosmos yang terdiri dari lapisan-lapisan molekul, proton, atom hingga partikel mikrokosmis itu.
Kesenian Agama Buddha

Kesenian orang India mencerminkan kebudayaan penyebaran Buddha. Hal tersebut di atas mungkin tergolong masalah ilmu teologi, namun benda kesenian yang ditinggalkan India, penuh dengan citra khidmat sang Buddha. Seperti 'gajah putih masuk ke dalam janin', 'ramalan putra mahkota', 'kepergian sang Boddhisattva', 'sang Buddha dianugerahi jubah kebesaran', 'turunnya iblis dan mendapatkan Tao', 'putaran roda hukum elementer', 'nibanna nirwana' dan sebagainya menceritakan kultivasi Buddha Sakyamuni, mendapatkan Tao serta kisah tentang penyebaran agama Buddha. Generasi penerus mencatatnya dengan ukiran batu, tidak saja sebuah puji-pujian, tetapi lebih merupakan suatu ekspresi akan rasa hormat welas asih dan wibawa dari kebajikan sang Buddha.


Yang paling klasik ialah sebuah ukiran patung Buddha yang berasal dari Dinasti Janda Raja, bermeditasi pada posisi kaki silang sempurna, dengan sebuah selendang di bahu kiri, ada sebuah lingkaran di seputar kepala, hidung mancung dengan mata cekung, bermuka berewok serta atas kedua alis mata terdapat sebuah mata sakti. Ditinjau dari kontur ajaran Buddha, tampak berkaitan erat dengan peradaban orang Yunani berkulit putih yang pernah ada di India Utara. Seiring penyebaran agama Buddha ke Timur maka kesenian Buddhis yang penuh dengan langgam Yunani setelah Dinasti Merak, seperti "Jiantoro" dan "Jirto" tersebar luas, mempengaruhi kesenian Buddha China setelah Enam Dinasti.
Peradaban Agama India

Asal-muasal rumpun bangsa India, kalangan intelektual belum dapat memastikannya sampai dewasa ini. Cendekiawan Barat berpraduga berdasarkan alat-alat yang ada ciri khasnya memastikan peradaban India berasal dari Mesopotamia dan ada juga cendekiawan yang beranggapan berasal dari peradaban Aria.


Sang Buddha Sakyamuni sama seperti orang suci lainnya di India, beliau mengalami reinkarnasi dalam jurang penderitaan, melepaskan kehormatan sebagai pangeran, meninggalkan perasaan kasih sayang pada ayah, istri serta anak untuk berkultivasi sepenuh hati. Tepat seperti yang diutarakan kitab (Perjalanan Biksu Tong ke Barat), beliau mengajarkan bahwa segala sesuatu ini bagai disinari cahaya rembulan. Kala itu India dipengaruhi oleh peraturan kasta dan Brahman menguasai kepercayaan di India. Masa penyebaran ajaran Buddha mendapat gangguan dari hegemoni agama lain, berdasarkan kekuatan ajaran Buddha yang bagus, maka India lalu menjadi sebuah negara yang taat pada ajaran Buddha-nya.


Setelah Boddhisattva Sakyamuni mencapai nirwana, agama Buddha mulai merosot, orang India kemudian banyak beralih ke agama Hindu dan agama Zena tua, muncul banyak agama lainnya, agama Buddha mundur dari percaturan agama di India, menyusuri jalur utara dan selatan, menyebar ke wilayah Timur (China). Ditilik dari hasil karya kesenian pada 'budaya baru' itu, diketahui mereka tak mirip Buddha, sering ditemukan birahi cinta, bahkan bentuk kemurkaan, terdapat perbedaan yang mencolok jika dibanding dengan prinsip sang Buddha yang berpegang teguh ajaran belas kasih serta kearifan, cara mengekspresikan dan mengimplikasikannya pun sangat berlainan.

SUMBER : http://aciu.heck.in


Minggu, 21 Agustus 2011

Ketidaknyataan Waktu, Durasi Ruang, dan Ekstensi

Posted On 19.07 by Unknown 0 komentar

Oleh : Aik Chong Theng

Singapura - Teori Buddhis Universal Flux menjelaskan proses dunia direpresentasikan sebagai gerakan yang terputus.

Ini terdiri dari jumlah tak terbatas saat diskrit berikut dengan yang lainnya hampir tanpa interval. Tidak peduli sama sekali, hanya kilatan energi yang menghasilkan ilusi fenomena.

Hal ini juga menyiratkan Momentariness Universal bahwa setiap durasi waktu yang terdiri dari titik-instants dengan yang lainnya, setiap ekstensi dalam ruang juga terdiri dari instants titik timbul di dekat satu sama lain dan secara bersamaan dan setiap gerak terdiri dari titik-instants timbul dalam jarak dekat.

Ini adalah seperti sebuah gulungan film di bioskop, di mana ketika diatur dalam gerak pada kecepatan tertentu, akhirnya produk stabilitas gambar yang kita lihat di layar. Karena itu tidak ada Waktu, Ruang Gerak dan tidak ada batas dan instants titik yang dibayangkan entitas ini dibangun oleh imajinasi kita.

Ketika kita melihat penafsiran Realis India, Waktu adalah zat, abadi dan semua meresapi. Keberadaannya disimpulkan dari fakta pada urutan peristiwa yang terjadi antara fenomena. Ruang juga dapat disebut zat yang abadi dan semua merangkul. Hal ini disimpulkan dari fakta bahwa semua proses kekebalan tubuh diperpanjang dan mereka saling berkaitan satu sama lain dalam ruang. Menurut mereka, waktu yang berbeda merupakan bagian dari satu dan waktu yang sama.

Ketika Ruang dan Waktu direpresentasikan maka dibagi dalam banyak ruang dan waktu yang berbeda, itu adalah metafora. Benda-benda yang terletak di dalamnya, tetapi tidak dengan Ruang dan Waktu itu sendiri. Mereka tidak mengkongsep secara umum, namun nama yang tepat. Mereka adalah representasi yang dihasilkan oleh satu objek saja. Untuk Realis, Ruang dan Waktu adalah dua wadah merangkul semua dari mereka masing-masing berisi seluruh Semesta.

Buddha menyangkal realitas yang terpisah dari kedua realitas ini. Real adalah hal yang memiliki efisiensi yang terpisah sendiri. Wadah dari hal-hal yang tidak memiliki efisiensi yang terpisah. Waktu dan Ruang tidak bisa terpisah dari hal-hal yang ada di dalamnya. Mereka tidak entitas yang terpisah.

Setiap titik instants dapat dipandang sebagai partikel Waktu, sebagai partikel Ruang dan sebagai kualitas yang masuk akal, tapi ini hanya perbedaan sikap mental kita terhadap titik-instants. Begitu titik itu sendiri, realitas terlepas dari imajinasi semua tanpa kualitas, abadi dan tak terpisahkan. Hanya waktu halus, saat ini, instan titik efisiensi dianggap sebagai nyata.

Gagasan Ruang substansial dan Waktu tidak disorot karena dapat dikurangi dengan penalaran dan mana yang asli empiris adalah mustahil, tetapi mereka dapat dihancurkan secara dialektis pada skor bahwa tentang durasi dan ekstensi mengandung
kontradiksi dan tidak dapat diterima sebagai obyektif nyata.

Jika kita melihat pada realitas sebagai instan titik efisiensi, dan jika kita ingin mengatakan bahwa ia memiliki ekstensi dan durasi kita akan mendarat di suatu kontradiksi, karena setiap instan titik nyata tidak bisa eksis pada waktu yang sama di banyak tempat, tidak bisa yang realitas yang sama menjadi nyata pada waktu yang berbeda. Untuk realis, hal-hal empiris memiliki durasi yang nyata terbatas. Mereka diproduksi oleh kekuatan kreatif dari alam atau oleh akan manusia atau oleh kehendak tuhan dan alam semesta.

Dari ajaran Buddha, jika ada suatu kejadian A, tidak bisa ada beberapa kejadiaan B, untuk ada kejadian A berarti tidak memiliki eksistensi nyata di kejadian B atau pada saat lain, mengingat realitas titik instan efisiensi. Jika hal bisa memiliki durasi riil melalui beberapa saat, itu akan merupakan kesatuan nyata yang ada sekaligus pada waktu yang berbeda.

Ini akan menjadi baik bahwa kesatuan abadi adalah sebuah fiksi dan nyata hanya saat-saat, atau momen yang fiksi dan nyata hanya durasi. Untuk Budha saat-saat sendiri adalah nyata, durasi adalah sebuah fiksi, karena jika durasi adalah kenyataan, itu akan menjadi kenyataan yang ada pada waktu yang berbeda sekaligus, yaitu, yang ada dan pada saat yang sama yang tidak ada pada saat tertentu.

Jadi Realitas Ultimate untuk Buddha adalah abadi, ruang-kurang dan bergerak. Tapi itu tidak abadi dalam arti yang kekal, ruang tidak dalam arti makhluk mana-mana, bergerak tidak dalam arti dari keseluruhan yang bergerak semua merangkul, tetapi abadi, ruang dan bergerak dalam arti tidak memiliki durasi, ekstensi atau gerakan. Itu hanya instan titik matematika, saat efisiensi tindakan itu.

Sumber : Buddhist Channel.TV


Selasa, 02 Agustus 2011

Meditasi - Pembersihan Pikiran

Posted On 18.13 by Unknown 0 komentar

Oleh : Aik Chong Theng

Singapura - Sebagai manusia, kita terus berpikir tentang masa depan kita atau masa lalu kita. Tetapi untuk pengalaman hidup, kita harus hidup setiap saat. Kehidupan terjadi dari masa lalu hanya memori.


Untuk kehidupan terjadi di masa depan, yaitu perencanaan. Satu-satunya waktu kita bisa hidup sekarang, saat ini. Sulit karena mungkin tampaknya, kita harus belajar untuk melakukan yang pertama. Kita harus benar-benar pengalaman hidup di masa sekarang untuk menghilangkan banyak sekali masalah-masalah kita. Sederhana karena dapat suara, sulit memang itu adalah untuk membawa keluar. Satu-satunya cara untuk belajar untuk hidup tiap saat adalah melalui apa yang lain - tetapi proses meditasi.
 

Kebanyakan jika tidak semua dari kita cukup mampu untuk menjaga tubuh kita untuk memastikan itu dapat berfungsi dengan baik. Tapi apakah kita melakukan hal yang sama bagi pikiran kita? Apa yang kita mungkin tidak terlalu memikirkan tentang adalah bahwa pikiran kita adalah tuan dan tubuh adalah hamba. Master, yang bertanggung jawab, harus dalam kondisi terbaik untuk mengarahkan hamba untuk memastikan semuanya adalah dalam rangka. Segala sesuatu di dunia ini adalah pikiran-dibuat, namun banyak dari kita mengambil pikiran untuk diberikan. Tidak banyak dari kita akan mengambil tubuh untuk diberikan meskipun, kita akan memastikan bahwa baik pakan, beristirahat dengan baik dan ketika sakit itu dibawa ke dokter. Untuk pikiran, yang akan menjadi masalah lain sama sekali untuk orang biasa kebanyakan. Mencari setelah pikiran sangat penting untuk itu untuk tumbuh secara mendalam dan visi, tetapi satu tersangka hanya meditator yang akan tahu bagaimana untuk pergi tentang mencari setelah itu.

Banyak dari kita mungkin akan menjalani hidup kita dalam realitas kemarin dan besok, baik dan buruk, suka dan tidak suka, tetapi hanya ketika pikiran yang terlatih dapat kita melihat di luar ini dan ke dimensi lain. Hal pertama yang perlu kita lakukan untuk membuat pikiran 'melihat' di luar ini dua dimensi kehidupan ini adalah untuk pertama 'mencuci' dan 'bersih' itu di semua momen bangun kita. Untuk itu, kita perlu belajar bagaimana untuk pergi tentang itu. Dengan tubuh, kita pasti akan tahu bagaimana melakukannya dengan benar dari usia yang sangat muda. Tapi untuk pikiran, itu hanya dapat dibersihkan dengan sendirinya. Apa yang telah menempatkan di sana sebelumnya, pikiran adalah satu-satunya yang dapat mengambilnya. Dalam hal itu, satu detikkonsentrasi dalam meditasi juga merupakan salah satu kedua dalam pemurnian pikiran kita. Untungnya bagi kita, saat pikiran mengikuti satu sama lain secara berurutan tetapi hanya satu pada suatu waktu.


Ketika kita berkonsentrasi, lima rintangan keinginan akal, akan sakit, kemalasan dan kelambanan, kekhawatiran dan keraguan, tidak akan memiliki kesempatan untuk muncul sebagai pikiran kita hanya bisa melakukan satu hal pada suatu waktu. Ketika kita menjadi lebih baik pada konsentrasi dan periode mendapat lebih lama dan lebih lama, pikiran akan dibersihkan lebih dan lebih. Pikiran kita adalah seperti alat, baik yang indah yang kita masing-masing memiliki dan kita jelas harus belajar bagaimana untuk pergi tentang mencari setelah itu setiap saat. Ini adalah alat yang bisa kita gunakan untuk banyak hal dicapai termasuk pencerahan dan belajar untuk menjaganya akan memastikan hal itu akan berfungsi dengan baik.


Selama meditasi, kita belajar untuk turun dari pikiran kita apa yang kita lakukan tidak ingin menyimpan dan hanya menjaga pikiran kita pada subjek meditasi. Ketika kita menjadi lebih dan lebih terampil, kita juga harus mampu untuk mulai membuat penggunaan praktik meditasi kami untuk membantu kami dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti membantu kita untuk menjatuhkan pikiran-pikiran yang bajik dan menempatkan perhatian kita pada yang sehat saja.


Selanjutnya, kita perlu latihan dan memperkuat pikiran kita untuk melakukan apa yang kita ingin lakukan, untuk berdiri masih saat kita ingin melakukannya. Hal ini menciptakan kekuatan dalam pikiran untuk membiarkan pergi, untuk meninggalkan ketika sangat diperlukan. Pikiran yang timbul, yang senang atau tidak senang, dalam fluks konstan dan aliran, ini adalah apa yang kita harus belajar untuk drop ketika kami mengatur untuk tetap pada subjek meditasi kita. Penolakan muncul dalam meditasi ketika kita drop semua pikiran. Ketika kita berpikir, berbicara, atau membaca, itu adalah menggunakan pikiran untuk kepentingan ego kita. Ketika ada seorang pun berpikir, tidak akan ada konfirmasi adanya ego.


Bagi mereka yang telah menjadi tuan dari pikiran mereka sendiri dan belajar untuk berpikir apa yang mereka ingin untuk berpikir, memang telah pindah ke jalan untuk menjadi Arahat, Ones Tercerahkan. Pada tahap itu, seseorang menjadi master dari pikiran bukan pikiran menjadi tuan dari satu diri. Jalan spiritual adalah semua tentang membiarkan pergi, melepaskan semua yang telah kita bangun sekitar kita, yang akan mencakup kebiasaan AC, ide-ide, keyakinan dan pola berpikir. Sebuah pikiran yang kuat tidak menderita dari kebosanan, depresi frustrasi, atau ketidakbahagiaan. Ini telah belajar untuk drop apa yang tidak inginkan, dan praktek meditasi telah memberikan otot-otot yang diperlukan untuk melakukannya.


Tentu saja pikiran juga perlu istirahat. Kami telah berpikir sejak kita masih kecil, pada kenyataannya selama masa hidup tak terhitung kami. Satu-satunya waktu pikiran dapat memiliki istirahat yang sebenarnya adalah ketika berhenti berpikir dan mulai hanya mengalami. Satu simile yang digunakan untuk pikiran adalah bahwa, itu seperti sebuah layar kosong yang film kontinu ditampilkan tanpa istirahat. Berikut film seperti pikiran kita dan kita lupa bahwa ada layarbelakangnya. Jika kita sekali menghentikan pertunjukan sejenak dalam meditasi, kita dapat mengalami kemurnian dasar pikiran kita. Momen ini juga membawa tentang timbul dari momen kebahagiaan dengan negara menyertai kebahagiaan juga. Ini adalah negara dikondisikan oleh konsentrasi. Ketika verbalisasi berhenti, ada yang tenang dan kepuasan pikiran.


Berpikir adalah penderitaan, tidak peduli apa yang kita pikirkan. Saat kita santai dan mengistirahatkan pikiran kita, kekuatan baru keuntungan dan kebahagiaan. Kebahagiaan ini dibuat dalam meditasi juga harus membawa melalui kehidupan sehari-hari kita sebagai pikiran tahu itu bisa pulang juga dan menemukan kedamaian dan ketenangan dalam meditasi ketika mensyaratkan demikian.


Pelepasan, penolakan dalam meditasi membawa bersama dengan itu wawasan, pemahaman bahwa ego terus ingin dan karena ingin berpikir. Ketika ego ingin berhenti, tidak perlu berpikir dan semua un-satisfactoriness menghilang. Itulah sebabnya, sebagai umat Buddha kita harus bermeditasi untuk membersihkan pikiran kita, untuk membawa damai dan tenang dan yang paling penting, dengan munculnya Wawasan melaluipengalaman, penghentian akhirnya Penderitaan kami.